remaja bermanfaat

Wednesday, April 8, 2009


MENJADI REMAJA BERMANFAAT


Suatu ketika, Hasan Al Bashri menyuruh beberapa muridnya untuk memenuhi kebutuhan ‎seseorang. Dia berkata, "Temuilah Tsabit Al Bunani dan pergilah kalian bersamanya." ‎Lalu, mereka mendatangi Tsabit yang ternyata sedang iktikaf di masjid. Dan, Tsabit ‎minta maaf karena tidak bisa pergi bersama mereka. Mereka pun kembali lagi kepada ‎Hasan dan memberitahukan perihal Tsabit.

Hasan berkata, "Katakanlah kepadanya, 'Hai Tsabit, apa engkau tidak tahu bahwa ‎langkah kakimu dalam rangka menolong saudaramu sesama muslim itu lebih baik ‎bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali?'" Kemudian, mereka kembali menemui ‎Tsabit dan menyampaikan apa yang dikatakan Hasan Al Bashri. Maka, Tsabit pun ‎meninggalkan iktikafnya dan pergi bersama mereka untuk membantu orang yang ‎membutuhkan.

Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Bisa ‎dengan menolong dalam bentuk tenaga, memberikan bantuan dalam bentuk materi, ‎memberi pinjaman, memberikan taushiyah keagamaan, meringankan beban penderitaan, ‎membayarkan utang, memberi makan, hingga menyisihkan waktu untuk menunggu ‎tetangga yang sakit.

Pimpinan yang baik juga bermanfaat bagi bawahannya, sebagaimana penguasa yang adil ‎pun bermanfaat bagi rakyatnya. Bahkan, membuat orang lain menjadi gembira juga ‎termasuk amalan bermanfaat yang dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ‎‎"Barang siapa yang membantu kesusahan seorang mukmin dari beberapa kesusahan ‎dunia maka Allah akan membantu kesusahannya dari beberapa kesusahan pada hari ‎kiamat. Dan, barang siapa yang meringankan beban orang kesulitan maka Allah akan ‎meringankannya dalam urusan dunia dan akhirat." (HR Muslim dan Ahmad).

Adalah ironi jika banyak orang kaya yang lebih senang naik haji berulang kali daripada ‎membantu kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan. Banyak juga orang kaya yang ‎jor-joran membangun masjid mewah, sedangkan di sekelilingnya masih banyak kaum ‎fakir miskin yang membutuhkan bantuan. Padahal, Allah tidak butuh disembah dengan ‎indahnya masjid ataupun ibadah haji yang berulang-ulang. Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
REPUBLIKA

Read more...

anda bertanya Al-Qur'an menjawab

MANUSIA BERTANYA, AL-QUR’AN MENJAWAB
Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?
Qur'an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) ‎mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). ‎Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka ‎sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia ‎mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)

Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur'an Menjawab : ………. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik ‎bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; ‎Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan ‎kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
Qur'an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu ‎bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu ‎orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
Qur'an Menjawab : ………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. ‎Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : ‎‎87)

Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur'an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah ‎kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada ‎Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai ‎penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-‎orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45)

Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an Menjawab : ….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya ‎kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)

Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur'an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri ‎dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)


‎(Sumber Tulisan oleh : Hakeem bin Zain)‎

Read more...

Tahan Amarah

SANGGUPKAH ANDA MENAHAN AMARAH?‎
‎"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka ‎kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, ‎disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. ‎Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. ‎Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan ‎begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.

Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih ‎dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi ‎dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong ‎hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.

Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. ‎Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu ‎merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan ‎dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.

Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ‎ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik ‎padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa ‎tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat ‎agar mereka bersabar.

Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang ‎tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, "Aku berbuat baik ‎padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan ‎kerabat."

Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada ‎waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar ‎lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, ‎maka ia selamat."

Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting ‎yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya ‎dengan taat dan ridha.

Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak ‎panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. ‎Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan ‎kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar ‎menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, ‎beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih ‎tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang ‎bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah ‎mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan ‎untuk menempuh perjalan jauh.

Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas ‎kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena ‎kehormatan agama Allah.

Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan ‎memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. Bukhari)

Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya ‎keji dan kotor." (HR. Turmudzi).

Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu ‎menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan ‎menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan ‎perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak ‎akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa ‎memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang ‎tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. ‎Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil ‎pasangannya.

Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh ‎pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. ‎Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah ‎memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.

Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang ‎lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara ‎membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, ‎sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-‎amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi ‎Allah S.W.T.

Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya ‎beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan ‎mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." ‎Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi ‎kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau ‎suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, ‎engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan ‎engkau." (HR. Thabrani).

Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah ‎kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah ‎kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, ‎berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi ‎kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat ‎laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ‎ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud).

Read more...

GOSIP…. GOSIP… GOSIP…..‎

GOSIP…. GOSIP… GOSIP…..‎
Dari 'Ubaid r.a, dia berkata : "Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-‎orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang ‎wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore ‎harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, ‎untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.

Sesampainya utusan tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah ‎mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan ‎agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua ‎wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga ‎membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW ‎bersabda : "Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi ‎membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk ‎bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah 'daging-daging' mereka ‎yang dipergunjingkan." (Hadits Riwayat Ahmad)

‎“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam ‎perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

‎"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan ‎yang haram." (Al-Qur'an Surat Al-Maidah : 42)

Allah S.W.T berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari ‎prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu ‎mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing ‎sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging ‎saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan ‎bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha ‎Penyayang. " (Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat:12)‎

Read more...

hikmah pengharaman al-kohol

HIKMAH PENGHARAMAN ALKOHOL
Hikmah Pengharaman Alkohol : Dampaknya Terhadap Jantung
Dr. Sath-han Ahmad (United State of America)

ٍSudah menjadi sesuatu yang diketahui umum, yaitu adanya dampak yang sangat kentara ‎dari alkohol terhadap otak dan kerja hati (liver), kecuali apabila hal itu digunakan untuk ‎tujuan-tujuan sosial atau untuk medis. Ada sebuah pemahaman yang menyatakan bahwa ‎penggunaan alkohol dalam jumlah kecil tidak berdampak pada toksin atau mempengaruhi ‎anggota tubuh lainnya sehingga tidak boleh melarang penggunaan alkohol.

Oleh karena itu, aku melaksanakan penelitian ini untuk memastikan ada-tidaknya dampak ‎yang signifikan terhadap jantung bagi manusia. Penelitian juga aku lakukan terhadap zat ‎aditif "khomer" bagi responden. Tes percobaan adalah 6 jenis alkohol dengan kandungan ‎‎43% saya berikan kepada orang biasa yang sehat yang berusia 23 - 30 tahun selama 2 ‎jam, bagi kelompok pertama, dan 1 jam bagi kelompok kedua. Dan ternyata, kerja ‎jantung jadi berdebar kencang.

Terhadap kelompok pertama, setelah berselang 60 menit (1 jam), kandungan al-kohol ‎menjadi + 74 mcm/ml ada penambahan selama pemompaan darah 90 - 96 mili kedua. ‎Dan penambahan waktu kepastian 44 - 52, bertambah persentase keduanya dari 0,299 ‎sampai 323. Dan mulai menurun setelah 2 jam pertama padahal jumlah alkohol dalam ‎darah bertambah sampai 111 mg dengan peningkatan yang sangat cepat/drastis (pada ‎kelompok kedua) dan terjadi dis-fungsi organ perut bagian kiri setelah 30 menit. Hal ini ‎terjadi ketika keadaan alkohol dalam darah mencapai 50 mg/100ml.

Adapun pada kelompok ketiga. Kami melakukan studi komparasional terhadap 5 orang ‎yang aku beri saccharine dan terjadi penurunan pada tiga hal tersebut pada setiap orang.

Oleh karena itu, penggunaan alkohol dengan dosis "kecil/atau tidak seberapa" akan ‎menyebabkan terjadinya disfungsi organ secara berkala; dan pada orang-orang biasa bila ‎tidak berkala. Dan untuk menganalisis kerja jantung pada pada saat diberi zat aditif ‎tersebut di atas, maka 3 orang yang sudah kecanduan khomer, kami melakukan studi ‎komparasinya dengan kelompok orang-orang biasa yang sehat. Berdasarkan hipotesis : ‎Ada perbedaan yang jelas pada keadaan dan gejala-gejala jantung, maka diketahui ‎bahwasanya ditemukan keadaan yang sangat jelas pada setiap responden tentang ‎disfungsi organ perut bagian kiri, baik besar atau pun kecil. Dan disfungsi ini lebih jelas ‎lagi pada orang yang sedang sakit yang relatif lebih lama pada lama-tidaknya kerja ‎jantung. Pada 12 pasien tidak mengetahui penyebab pembengkakan jantung, sebab ‎ukuran/volume organ perut bagian kiri dan volume darah dan terbuang berbeda lebih ‎jelas dibandingkan pada responden orang biasa.

Dan pada 11 orang yang menderita sakit tambahan, tidak mengetahui pembengkakan ‎jantung dengan perbedaan yang jelas, yaitu adanya penambahan atau pengurangan ‎volume pompa darah.

Pada 18 pasien, mengetahui adanya pembengkakan jantung tanpa diserta gejala, terjadi ‎penurunan atau dis-fungsi kerja pompa jantung secara jelas dan disertai penurunan ‎volume dan darah yang terbuang.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan alkohol (sebagai zat aditif) adalah kritis secara ‎terus-menerus terhadap jantung. Hal ini diawali dengan berdebarnya detak jantung dan ‎sampai pada tahapan berikutnya, sakit; penurunan stamina tubuh pada kerja pompa darah, ‎kemudian pembengkakan jantung, munculnya dis-fungsi jantung. Dan informasi yang ‎diperoleh dari percobaan terhadap sejumlah anjing menguatkan data kami ini, dimana ‎kami telah memberi makan 7 anjing tersebut secara paralel 5 kebutuhan anjing tersebut ‎akan energi panas melalui alkohol selama 18 bulan. Maka, terjadilah dis-‎fungsi/penurunan yang sangat jelas pada jumlah yang terbuang dari organ perut bagian ‎kiri, dan pada kekuatan tulang biseps. Adapun pembengkakan pada organ perut dan ‎inflamasi ataupun perubahan pada keduanya, maka hal itu tidak terjadi, dan terjadinya ‎penurunan potassium dengan adanya catatan pada biseps jantung anjing (64, dimana ‎sebelumnya 72).

Berdasarkan hal tersebut, pengunaan alkohol dengan dosis apapun dan dalam kondisi ‎apapun bukan hanya mempengaruhi aqidah saja, bahkan berdampak kepada jantung ‎dengan dampak yang sangat berbahaya.

Sesungguhnya hukum pengharaman di dalam Islam adalah sesuatu yang sudah dogmatis ‎dan terbatas yang tidak ada porsi sedikitpun untuk meragukannya atau mengingkarinya. ‎Sikap Islam terhadap penggunaannya minuman beralkohol dalam dosis kecil adalah ‎sangat jelas yang tidak perlu penjelasan tambahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-‎hadits Rasulullah. Adapun orang-orang kafir dan kalangan pendosa, mereka mengikuti ‎kaidah-kaidah mereka dari aspek kemanusiaan dan medik untuk melegalkan penggunaan ‎alkohol dalam dosis rendah ... . Maka mereka akhirnya menyangka bahwa dosis rendah ‎tidak akan berdampak secara signifikan, tidak jadi haram, dan tidak membahayakan ‎tubuh. Dari hal ini pun akhirnya dimungkinkan penggunaan alkohol dalam dosis sedang ‎untuk tujuan-tujuan medik.

Oleh karena itu, dipandang perlu bahwa kita dalam setiap moment selalu mengedepankan ‎ilmu dan dalil untuk memuaskan mereka-mereka yang tidak yakin dengan asas komitmen ‎dalam kita bertahkim dengan hukum ilahi.

‎------------------------------
http://www.geocities.com/the_fact99/‎

Read more...

jadikan jiwa lebih sehat

MEMBACA AL-QUR’AN MENJADIKAN JIWA LEBIH SEHAT
Dalam sebuah penelitian di Belanda yang dilakukan oleh seorang profesor psycologist ‎yang bernama Vander Hoven [ VH ], dimana telah mengadakan sebuah survey terhadap ‎pasien di rumah sakit Belanda yg kesemuanya non muslim selama tiga tahun. Dalam ‎penelitian tersebut VH melatih para pasien untuk mengucapkan kata ALLAH ‎‎[penyebutan sesuai cara Islam] dengan jelas dan berulang-ulang.

Hasil dari penelitian tersebut sangat mengejutkan, terutama sekali untuk pasien yang ‎mengalami gangguan pada fungsi hati dan orang yang mengalami stress / ketegangan [ ‎tension ]. AL Watan, surat kabar Saudi sebagaimana telah mengutip dari peryataan ‎profesor VH tsb, yang mengatakan bahwa seorang muslim yang biasa membaca Al-‎Qur'an secara rutin dapat melindungi mereka dari penyakit mental dan penyakit-penyakit ‎yang ada hubungannya [ psychological diseases ].

VH juga menerangkan bagaimana pengucapan kata ALLAH tsb sebagai solusi dari ‎kesehatan , ia menekankan dalam penelitiannya bahwa huruf pertama dalam ALLAH ‎yaitu 'A' dapat melonggarkan [ melancarkan ] pada jalur pernafasan [espiratory system ], ‎dan mengontrol pernafasan [controls breathing ].dan untuk huruf konsonan ' L ' dimana ‎lidah menyentuh bagian atas rahang dapat memberikan efek relax, juga VH ‎menambahkan bahwa huruf ' H ' pada ALLAH tsb dapat menghubungkan antara Paru-‎paru dan Jantung dimana dapat mengontrol system dari denyut jantung [ heart beat ].

Subhanallah, sungguh luar biasa kebesaran Allah SWT ini, dimana penelitian yang ‎dilakukan oleh seorang profesor non muslim yang tertarik dan meneliti akan rahasia Al-‎Qur'an ini sangat mengejutkan para ahli kesehatan di Belanda.

‎[ Sumber dari Indonesian Moslem Student Association of North America ]
http://yartati.multply.com

Read more...

wanita yang selalu berbicara dengan Al-Qur'an


WANITA YANG SELALU BERBICARA DENGAN AL-QUR’AN

Berkata Abdullah bin Mubarak Rahimahullahu Ta'ala :
Saya berangkat menunaikan Haji ke Baitullah Al-Haram, lalu berziarah ke makam ‎Rasulullah sallAllahu 'alayhi wasallam. Ketika saya berada disuatu sudut jalan, tiba-tiba ‎saya melihat sesosok tubuh berpakaian yang dibuat dari bulu. Ia adalah seorang ibu yang ‎sudah tua. Saya berhenti sejenak seraya mengucapkan salam untuknya. Terjadilah dialog ‎dengannya beberapa saat.

Dalam dialog tersebut wanita tua itu , setiap kali menjawab pertanyaan Abdulah bin ‎Mubarak, dijawab dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur'an. Walaupun jawabannya ‎tidak tepat sekali, akan tetapi cukup memuaskan, karena tidak terlepas dari konteks ‎pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Abdullah : "Assalamu'alaikum warahma wabarakaatuh."
Wanita tua : "Salaamun qoulan min robbi rohiim." (QS. Yaasin : 58) (artinya : "Salam ‎sebagai ucapan dari Tuhan Maha Kasih")

Abdullah : "Semoga Allah merahmati anda, mengapa anda berada di tempat ini?"
Wanita tua : "Wa man yudhlilillahu fa la hadiyalahu." (QS : Al-A'raf : 186 ) ("Barang ‎siapa disesatkan Allah, maka tiada petunjuk baginya")


Dengan jawaban ini, maka tahulah saya, bahwa ia tersesat jalan.

Abdullah : "Kemana anda hendak pergi?"
Wanita tua : "Subhanalladzi asra bi 'abdihi lailan minal masjidil haraami ilal masjidil ‎aqsa." (QS. Al-Isra' : 1) ("Maha suci Allah yang telah menjalankan hambanya di waktu ‎malam dari masjid haram ke masjid aqsa")


Dengan jawaban ini saya jadi mengerti bahwa ia sedang mengerjakan haji dan hendak ‎menuju ke masjidil Aqsa.

Abdullah : "Sudah berapa lama anda berada di sini?"
Wanita tua : "Tsalatsa layaalin sawiyya" (QS. Maryam : 10) ("Selama tiga malam dalam ‎keadaan sehat")

Abdullah : "Apa yang anda makan selama dalam perjalanan?"
Wanita tua : "Huwa yut'imuni wa yasqiin." (QS. As-syu'ara' : 79) ("Dialah pemberi aku ‎makan dan minum")

Abdullah : "Dengan apa anda melakukan wudhu?"
Wanita tua : "Fa in lam tajidu maa-an fatayammamu sha'idan thoyyiban" (QS. Al-Maidah ‎‎: 6) ("Bila tidak ada air bertayamum dengan tanah yang bersih")

Abdulah : "Saya mempunyai sedikit makanan, apakah anda mau menikmatinya?"
Wanita tua : "Tsumma atimmus shiyaama ilallaiil." (QS. Al-Baqarah : 187) ("Kemudian ‎sempurnakanlah puasamu sampai malam")
Abdullah : "Sekarang bukan bulan Ramadhan, mengapa anda berpuasa?"
Wanita tua : "Wa man tathawwa'a khairon fa innallaaha syaakirun 'aliim." (QS. Al-‎Baqarah : 158) ("Barang siapa melakukan sunnah lebih baik")

Abdullah : "Bukankah diperbolehkan berbuka ketika musafir?"
Wanita tua : "Wa an tashuumuu khoirun lakum in kuntum ta'lamuun." (QS. Al-Baqarah : ‎‎184) ("Dan jika kamu puasa itu lebih utama, jika kamu mengetahui")

Abdullah : "Mengapa anda tidak menjawab sesuai dengan pertanyaan saya?"
Wanita tua : "Maa yalfidhu min qoulin illa ladaihi roqiibun 'atiid." (QS. Qaf : 18) ("Tiada ‎satu ucapan yang diucapkan, kecuali padanya ada Raqib Atid")

Abdullah : "Anda termasuk jenis manusia yang manakah, hingga bersikap seperti itu?"
Wanita tua : "Wa la taqfu ma laisa bihi ilmun. Inna sam'a wal bashoro wal fuaada, kullu ‎ulaaika kaana 'anhu mas'ula." (QS. Al-Isra' : 36) ("Jangan kamu ikuti apa yang tidak ‎kamu ketahui, karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan dipertanggung ‎jawabkan")

Abdullah : "Saya telah berbuat salah, maafkan saya."
Wanita tua : "Laa tastriiba 'alaikumul yauum, yaghfirullahu lakum." (QS.Yusuf : 92) ‎‎("Pada hari ini tidak ada cercaan untuk kamu, Allah telah mengampuni kamu")

Abdullah : "Bolehkah saya mengangkatmu untuk naik ke atas untaku ini untuk ‎melanjutkan perjalanan, karena anda akan menjumpai kafilah yang di depan."
Wanita tua : "Wa maa taf'alu min khoirin ya'lamhullah." (QS Al-Baqoroh : 197) ("Barang ‎siapa mengerjakan suatu kebaikan, Allah mengetahuinya")


Lalu wanita tua ini berpaling dari untaku, sambil berkata :

Wanita tua : "Qul lil mu'miniina yaghdudhu min abshoorihim." (QS. An-Nur : 30) ‎‎("Katakanlah pada orang-orang mukminin tundukkan pandangan mereka")

Maka saya pun memejamkan pandangan saya, sambil mempersilahkan ia mengendarai ‎untaku. Tetapi tiba-tiba terdengar sobekan pakaiannya, karena unta itu terlalu tinggi ‎baginya. Wanita itu berucap lagi.

Wanita tua : "Wa maa ashobakum min mushibatin fa bimaa kasabat aidiikum." (QS. Asy-‎Syura' 30) ("Apa saja yang menimpa kamu disebabkan perbuatanmu sendiri")

Abdullah : "Sabarlah sebentar, saya akan mengikatnya terlebih dahulu."
Wanita tua : "Fa fahhamnaaha sulaiman." (QS. Anbiya' 79) ("Maka kami telah memberi ‎pemahaman pada nabi Sulaiman")

Selesai mengikat unta itu sayapun mempersilahkan wanita tua itu naik.

Abdullah : "Silahkan naik sekarang."
Wanita tua : "Subhaanalladzi sakhkhoro lana hadza wa ma kunna lahu muqriniin, wa inna ‎ila robbinaa munqolibuun." (QS. Az-Zukhruf : 13-14) ("Maha suci Tuhan yang telah ‎menundukkan semua ini pada kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. ‎Sesungguhnya kami akan kembali pada tuhan kami")

Sayapun segera memegang tali unta itu dan melarikannya dengan sangat kencang. Wanita ‎tua itu berkata lagi.

Wanita tua : "Waqshid fi masyika waghdud min shoutik" (QS. Lukman : 19) ‎‎("Sederhanakan jalanmu dan lunakkanlah suaramu")

Lalu jalannya unta itu saya perlambat, sambil mendendangkan beberapa syair, Wanita tua ‎itu berucap.

Wanita tua : "Faqraa-u maa tayassara minal qur'aan" (QS. Al- Muzammil : 20) ("Bacalah ‎apa-apa yang mudah dari Al-Qur'an")

Abdullah : "Sungguh anda telah diberi kebaikan yang banyak."
Wanita tua : "Wa maa yadzdzakkaru illa uulul albaab." (QS Al-Baqoroh : 269) ("Dan ‎tidaklah mengingat Allah itu kecuali orang yang berilmu")

Dalam perjalanan itu saya bertanya kepadanya.

Abdullah : "Apakah anda mempunyai suami?"
Wanita tua : "Laa tas-alu 'an asy ya-a in tubda lakum tasu'kum" (QS. Al-Maidah : 101) ‎‎("Jangan kamu menanyakan sesuatu, jika itu akan menyusahkanmu")

Ketika berjumpa dengan kafilah di depan kami, saya bertanya kepadanya.

Abdullah : "Adakah orang anda berada dalam kafilah itu?"
Wanita tua : "Al-maalu wal banuuna zinatul hayatid dunya." (QS. Al-Kahfi : 46) ‎‎("Adapun harta dan anak-anak adalah perhiasan hidup di dunia")

Baru saya mengerti bahwa ia juga mempunyai anak.

Abdullah : "Bagaimana keadaan mereka dalam perjalanan ini?"
Wanita tua : "Wa alaamatin wabin najmi hum yahtaduun" (QS. An-Nahl : 16) ("Dengan ‎tanda bintang-bintang mereka mengetahui petunjuk")

Dari jawaban ini dapat saya fahami bahwa mereka datang mengerjakan ibadah haji ‎mengikuti beberapa petunjuk. Kemudian bersama wanita tua ini saya menuju ‎perkemahan.

Abdullah : "Adakah orang yang akan kenal atau keluarga dalam kemah ini?"
Wanita tua : "Wattakhodzallahu ibrohima khalilan" (QS. An-Nisa' : 125) ("Kami jadikan ‎ibrahim itu sebagai yang dikasihi") "Wakallamahu musa takliima" (QS. An-Nisa' : 146) ‎‎("Dan Allah berkata-kata kepada Musa") "Ya yahya khudil kitaaba biquwwah" (QS. ‎Maryam : 12) ("Wahai Yahya pelajarilah alkitab itu sungguh-sungguh")

Lalu saya memanggil nama-nama, ya Ibrahim, ya Musa, ya Yahya, maka keluarlah anak-‎anak muda yang bernama tersebut. Wajah mereka tampan dan ceria, seperti bulan yang ‎baru muncul. Setelah tiga anak ini datang dan duduk dengan tenang maka berkatalah ‎wanita itu.

Wanita tua : "Fab'atsu ahadaku bi warikikum hadzihi ilal madiinati falyandzur ayyuha ‎azkaa tho'aaman fal ya'tikum bi rizkin minhu." (QS. Al-Kahfi : 19) ("Maka suruhlah ‎salah seorang dari kamu pergi ke kota dengan membawa uang perak ini, dan carilah ‎makanan yang lebih baik agar ia membawa makanan itu untukmu")

Maka salah seorang dari tiga anak ini pergi untuk membeli makanan, lalu ‎menghidangkan di hadapanku, lalu perempuan tua itu berkata :

Wanita tua : "Kuluu wasyrobuu hanii'an bima aslaftum fil ayyamil kholiyah" (QS. Al-‎Haqqah : 24) ("Makan dan minumlah kamu dengan sedap, sebab amal-amal yang telah ‎kamu kerjakan di hari-hari yang telah lalu")

Abdullah : "Makanlah kalian semuanya makanan ini. Aku belum akan memakannya ‎sebelum kalian mengatakan padaku siapakah perempuan ini sebenarnya."

Ketiga anak muda ini secara serempak berkata :

‎"Beliau adalah orang tua kami. Selama empat puluh tahun beliau hanya berbicara ‎mempergunakan ayat-ayat Al-Qur'an, hanya karena khawatir salah bicara."


Maha suci zat yang maha kuasa terhadap sesuatu yang dikehendakinya. Akhirnya saya ‎pun berucap :

‎"Fadhluhu yu'tihi man yasyaa' Wallaahu dzul fadhlil adhiim." (QS. Al-Hadid : 21) ‎‎("Karunia Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendakinya, Allah adalah ‎pemberi karunia yang besar")‎

Read more...

silaturrahim gitu looooh

Monday, March 23, 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

SILATURRAHIM

MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERARTI

Oleh; Mukhlisien el-lampungiy

I. MUQODIMAH

Orang bilang sekarang adalah zaman kemajuan. Segala sesuatu dinilai dengan seberapa banyak materi yang didapat. Mereka sebarkan ideologi individualitas mereka dengan selogan “elo-elo, gua-gua. Urusan elo, urusan elo. Urusan gua, urusan gua. Elo pikirin hidup loe, gua pikirin hidup gua” Sungguh ironis sekali kehidupan ini jikalau hanya dinilai dari segi finansial belaka. Namun yang membuat lebih miris lagi jikalau ternyata yang ikut-ikutan melontarkan selogan tersebut ialah orang Islam sendiri, yang notabenenya ialah penganut agama yang menjunjung tinggi persaudaraan.

Sesungguhnya perkara ini yang menurut aggapan sebagian manusia ialah perkara yang sepele namun jikalau tidak dikemas dengan rapi akan menimbulkan dampak yang sangat buruk , baik dalam skala kehidupan bermasyarakat, maupun kehidupan beragama.

Oleh kerena itu Islam telah mengatur urusan masyarakat tersebut dalam bingkaian agama. Di antara hubungan timbal balik antar masyarakat yang disorot ialah masalah silaturrahim. Sejauh apa tingkat kepedulian seseorang terhadap saudaranya. Namun bagaimana mungkin ia mengetahui keadaan saudaranya jikalau ia sendiri selalu meninggikan indifidualismenya? Jangankan kepada saudaranya yang letaknya berjauhan, sesama tetangga sendiri saja tidak kenal dan tidak pernah berkunjung.

Mereka seakan-akan enggan untuk berkunjung ke rumah saudaranya, dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan. Silaturrahim yang mempunyai fadhilah yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat, mulai enggan untuk diamalkan kecuali oleh sebagian kecil kaum Muslimin. Padahal jikalau mereka mengetahui manfaat-manfaat yang didapat dengan silaturrahim, niscaya mereka tidak akan menyepelekan urusan tersebut. Meskipun jikalau dipandang dari sudut pandang fiqih ia bukan suatu perkara yang diwajibkan sehingga oirang yang tidak melakukannya akan dikenai sangsi di dunia dan akhirat, namun jikalau seseorang sampai memutuskan tali silaturrahim yang notabenenya bukan perkara wajib tersebut niscaya ia akan terkena ancaman dari Rosulullah r.

Sebenarnya seberapa pentingkah silaturrahim ini? Sehingga Rosullullahr mengancam orang yang memutuskan tali silaturrahim? Dan bagaimanakah adab-adab silaturrahim tersebut?

II. LATAR BELAKANG PENULISAN

Latar belakang penulisan makalah ini ialah sikap sebagian kaum Muslimin yang sudah tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi dengan saudaranya. Jangankan yang hidup di perkotaan, yang masih di perdesaan yang konon masih kental dengan rasa solidaritasnya saja sudah mulai enggan untuk sekedar tegur sapa terhadap saudara-saudaranya. Oleh karena itu penulis merasa terpanggil untuk menjelaskan sedikit masalah silaturrahim didalam makalah singkat ini.

Dengan mengharap ridho dari Allah, InsyaAllah penulis akan membahas pertanyaan-pertanyaan di atas berdasarkan hujah-hujah yang berlandaskan Al-Qur'an dan sunnah. Dengan harapan setelah membaca makalah singkat ini, silaturrahim yang sudah mulai "mengering" dapat "dihijaukan" kembali. Juga hubungan silaturrahim yang sudah terputus baik yang disengaja ataupun tidak, dapat disambung kembali.

III. PEMBAHASAN MASALAH

A. HINDARI SOMBONG DENGAN SILATURRAHIM

Seringkali sombong menjadi masalah tersendiri yang muncul di tengah polemik kehidupan bermasyarakat. Namun ia juga menjadi wasilah yang akan menghancurkan persaudaraan sesame kaum Muslimin. Bagaikan sebuah virus yang terdapat didalam tubuh manusiua, yang belum nampak ketika ia masih masa inkubasi namun akibat yang ditimbulkan akan sangat berbahaya jikalau tidak segera terdeteksi dan diobati.

Begitu juga didalam masalah silaturrahim ini. Orang-orang kaya ataupun yang terpandang merasa enggan untuk sekedar menjalin silaturrahim. "wah eggak level kalau saya bertamu ke rumah simiskin, nanti apa kata dunia?" begitulah kurang lebih bisikan saithon kedalam hati orang yang sombong sehingga menurut sangkaan dia, seharusnya orang miskin lah yang mengunjungi rumahnya. Sikap peremehan inilah yang dikatakan oleh Rosullullah SAW sebagai ciri-ciri sifat sombong telah menancap ke dalam diri seseorang.

الكبر بطر الحق و غمط النّاس

"Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia"

Saad bin Abi Waqosh t pernah berkata kepada anaknya;

"Wahai anakku…… janganlah engkau sombong. Dan hendaklah yang engkau mintai tolong agar engkau bisa meniggalkan sifat sombong adalah yang mengajarkanmu tentang kedudukanmu dari-Nya dan kepada-Nya engkau kembali.

Dan bagaimana kesombongan bisa dimiliki oleh sesuatu yang diciptakan dari setetes air mani yang hina, dan dikeluarkan dari rahim, serta diberi makan dengan makanan yang bergizi."

Oleh kerena itu, salah satu hal yang dapat menghilangkan sifat sombong dan keangkuhan ialah dengan menjalin silaturrahim dengan saudara, tetangga dan kerabat. Serta tidak melukai perasaan mereka ketika berkunjung ke kediaman mereka. Baik secara lisan maupun secara fisik.

من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فلا يؤذي جاره

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah tidak menyakiti tetangganya."[1]

Telah sampai kabar dari Nabi r bahwa beliau bersabda, "barangsiapa menutup pintunya dari tetangganya karena khawatir akan mengurangi bagian keluarga dan hartanya, maka ia bukanlah seorang mu'min. Tiada pula seorang itu beriman jika tetangganya tidak merasa aman dari perilaku buruknya."[2]

B. PENGERTIAN SILATURRAHIM

Rahim secara bahasa berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang. Tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang.

Imam Al-Azhary berkata yang dimaksud dengan firman Allah:

(Yang artinya)"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".[3] Adalah kasih sayang.

Tarahhama 'alaihi berarti mendoakan seseorang agar mendapatkan rahmat, istarhama berarti memohonkan rahmat. Rajulun rahumun (orang laki-laki yang penyayang) dan imra'atun rahumatun (perempuan yang penyayang). Ar-Rahmah fi bani adam, berarti kelembutan dan kebaikan hati. Seseorang dikatakan dekat dengan kerabat apabila dia telah memiliki kasih sayang dan kebaikan sehingga menjadi betapa baik dan sayang.

Abu Ishaq berkata: Dikatakan paling dekat rahimnya yaitu orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kerabatnya. Ar-ruhmu dan ar-ruhumu secara bahasa adalah kasihan dan simpati. Allah menyebut hujan dengan nama rahmat.

Ibnu Sayyidih berkata bahwa yang dimaksud dengan ar-rahim dan ar-rihimu adalah rumah tempat tumbuhnya anak, dan jamaknya arhaam.

Al-Jauhary berkata ar-rahim berarti kerabat. Imam Ibnu Atsir berkata bahwa dzu rahim adalah orang-orang yang memiliki hubungan kerabat yaitu setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengan anda.

Imam Al-Azhary berkata ar-rahim adalah hubungan dekat antara bapak dan anaknya dengan kasih sayang yang sangat dekat.

Allah Ta'ala berfirman:

(Yang artinya:) ”Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”[4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".


Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.[5]

Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat, baik menurut garis keturunan maupun perkawinan. berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.

C. HIDUP LEBIH BERARTI DENGAN SILATURRAHIM

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah.

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

من سرّه أن يبسط له في رزقه و أن ينسأ له في أثره فليصل رحمه

" Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim" [6]

2. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim".[7]

Dalam dua hadits yang mulia diatas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.

Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh mahluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad
r. Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. Demikian, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan "Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim"
Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu dalam Kitab Shahihnya dan beliau memberi judul dengan "Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim".

3. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda.

"Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyak - nya harta dan bertambahnya usia"
[8]


4. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu dari Nabi
r, beliau bersabda.

"Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim"[9]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi
r yang jujur dan terpercaya, mejelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat ; bertaqwa kepada Allah I dan menyambung silaturrahim


Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta dan benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Ta'ala.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya keta'atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan)".[10]

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa silaturrahim (menyambung tali kekeluargaan) merupakan amal yang dapat melanggengkan sebuah atsar –berdasar salah satu dari penafsiran hadits ini- . Dari Abu Hurairaht, dari Nabir beliau bersabda:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

“Belajarlah kalian dari nasab kalian, karena hal itu akan menyambung tali kekeluargaan kalian. Sesungguhnya silaturrahim (menyambung tali kekeluargaan) dapat menumbuhkan rasa cinta dalam keluarga, melimpahkan harta benda dan memanjangkan umur.”[11]

Ada beberapa pendapat tentang sabda Rasulullah:

مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

Pertama, bahwasannya silaturrahim dapat memperpanjang umur.

Kedua, silaturrahim merupakan salah satu faktor pendorong keberlangsungan dan kelanggengan keturunan. Maknanya, barakah dari silaturrahim melimpah hingga pada masalah ini.

Ketiga, silaturrahim merupakan perantara untuk mendapatkan barakah dan petunjuk dalam beramal, hingga tidak ada istilah menyia-nyiakan umur. Dengan demikian seakan-akan umurnya bertambah.

Keempat, silaturrahim merupakan faktor yang menyebabkan dia selalu di kenang sepeninggalnya.

Di dalam kitab Fath Al-Bari[12] disebutkan penjelasan dari hadits tersebut bahwa, “Silaturrahim merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan petunjuk dalam menjalankan ketaatan dan tameng dari perbuatan maksiat. Maka setelah kematiannya, tinggalah setelah itu kenangan yang indah, seakan-akan dia belum meninggal. Kemudian salah satu dari perkara yang dapat menghantarkannya untuk mendapatkan petunjuk ini adalah ilmu yang bisa diambil manfaatnya oleh orang-orang setelahnya. Shadaqah jariyah, dan keturunan yang shalih…”

Masih di dalam kitab Fath Al-Bari, disebutkan bahwa Allah akan melanggengkan atsar orang yang senantiasa bersilaturrahim di dunia, dalam rentang waktu yang cukup lama. Peninggalan yang dia tinggalkan tidak cepat sirna, tidak sebagaimana peninggalan yang ditinggalkan oleh orang yang suka memutus tali persaudaraan.[13]

Kelima, bahwasannya silaturrahim merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan keturunan yang shalih.[14]

"Para ahli hadits mengangkat persoalan seputar bertambahnya umur karena silaturrahim dan mereka memberikan jawabannya. Misalnya, dalam Fathul Bari disebutkan, Ibnu At-Tin berkata, 'Secara lahiriah, hadits ini beterntangan dengan firman Allah :

(Yang artinya:) "Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya"[15]

Untuk mencari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan.

Pertama: bahwasanya tambahan (umur) yang dimaksud adalah kinayah dari usia yang diberi berkah karena mendapat taufiq untuk menjalankan keta'atan, ia menyibukkan waktunya dengan apa yang bermanfa'at di akhirat, serta menjaga dari menyia-nyiakan waktunya untuk hal lain (yang tidak bermanfa'at).

Kedua: tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Dan itu berkaitan dengan malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang ditujukkan oleh ayat pertama di atas, maka hal itu berkaitan dengan ilmu Allah Ta'ala. Umpamanya dikatakan kepada malaikat, 'Sesungguhnya umur fulan dalah 100 tahun jika dia menyambung silaturrahim dan 60 tahun jika ia memutuskannya'. Dalam ilmu Allah telah diketahui bahwa fulan tersebut akan menyambung atau memutuskan silaturrahim. Dan apa yang ada di dalam ilmu Allah itu tidak akan maju atu mundur. Adapun yang ada dalam ilmu malaikat maka hal itulah yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah :

(Yang artinya:)"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)".[16]

Jadi, yang dimaksudkan dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu adalah apa yang ada dalam ilmu malaikat. Sedangkan apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh itu merupakan ilmu Allah, yang tidak akan ada penghapusan (perubahan) selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan al-qadha' al-mubram (taqdir/ putusan yang pasti), sedang yang pertama (dalam ilmu malaikat) disebut al-qadha' al-mu'allaq (taqdir / putusan yang masih menggantung).[17]

D. MEMUTUS SILATURRAHIM MERUGIKAN DIRI

Maha benar Allah U yang telah memberitahukan;

و إنّ الظنّ لا يغنى من الحقّ شيئا

“Dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran"[18]

Betapa banyak orang yang menyangka bahwa dengan memutus tali silaturrahim yang telah mereka jalin, mereka putus hanya dikarenakan masalah yang sepele akan membawa dampak yang positif bagi mereka. Sangkaan tinggallah sangkaan. Ternyata yang tadinya mereka sangka kebaikan yang akan datang kepada mereka, namun malah kerugian yang mereka dapat. Sebenarnya kerugian akan tampak dengan terrputusnya tali silaturrahim. Hubungan menjadi kurang harmonis, emosi meluap, dendam berkesumat sampai-sampai kata-kata laknat pun terucap. Ini baru sebagian saja dari dampak-dampak yang terlihat ketika di dunia. Bagaimana kelak ketika di akhirat?

Allah U berfirman;

(Yang artinya:)"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[19], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."[20]

Maksudnya jangan sampai memutus hubungan silaturrahim.

)Yang artinya)"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" [21]

Dalam kitab shohih bukhori dan muslim disebutkan bahwa Rasulullah r bersabda;

لا يدخل الجنّة قاطع رحم

"Tidak masuk surga orang yang memutus ikatan rahim"[22]

"Barang siapa memutuskan hubungan dengan kerabat yang lemah, mengisolir mereka, bersikap takabur terhadap mereka dan tidak berbuat baik terhadap mereka, padahal ia kaya "Orang yang menyambung itu bukanlah mukafi' (orang yang melakukannya jika kerabatnya terlebih dahulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang menyambung ialah orang yang terputus tali silaturrahminya kemudian manyambungnya kembali."[23]

Ali bin Husain pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah sekali-kali engkau bersahabat dengan orang yang memutuskan tali silaturrahim. Sesungguhnya aku mendapatkannya terlaknat dalam kitabullah pada tiga tempat.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mengadakan majlis untuk mengkaji hadits Rosulr dia berkata, “Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan tali silaturrahim sampai orang itu pergi dari perkumpulan kita.” Tidak ada seorangpun yang beranjak kecuali seorang pemuda yang duduk di bagian terjauh halaqoh itu. Ia pergi ke rumah bibinya sebab sudah lama ia bermusuhan dengan dengannya. Ia jalin lagi ikatan silaturrahim tersebut. Sambil terheran-heran sang bibi bertanya, “apa yang membawamu kemari, keponakanku?” pemuda tersebut menjawab, “Sungguh aku tengah mengikuti majlisnya Abu Hurairah, salah seorang sahabat Rosulullah r kemudian beliau berkata, ‘Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan tali silaturrahim sampai orang itu pergi dari perkumpulan kita.” Bibinya berkata, “kembalilah ke majlisnya dan tanyakan mengapa demikian.” Pemuda itu pun kembali ke majlis dan menceritakan kepada Abu Hurairah perihal sengketa antara dia dan bibinya. Dia bertanya, “mengapa anda tidak mau bermajlis dengan orang yang telah memutus tali silaturrahim?” maka Abu Hurairah pun menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah r bersabda, ‘Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim.”

E. ADAB-ADAB DALAM SILATURRAHIM

Adapun diantara adab-adab yang perlu diperhatikan pada saat silaturrahim ialah sebagai berikut;

1. Mengikhlaskan niat karena Allah U

Rossulullah r bersabda;

إنّما الأعمال بالنّيات و إنّما لكلّ امرء ما نوى

“sesungguhnya amalan seseorang itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan niatnya.”[24]

Niatan yang berbeda akan melahirkan sikap dan hasil yang berbeda pula. Ketika niatnya untuk menggapai ridho Allah maka ridho-Nya lah yang akan didapat. Namun adakalanya yang menjadi prioritas ketika bersilaturrahim ialah simpati dari orang tua yang memiliki anak yang sedang diincarnya. Ataupun berbagi macam niatan yang tidak “murni” lainnya.

2. Tidak bermakud pamer dan membanggakan diri ketika berkunjung. Serta tidak meremehkan sanak kerabat lainnya karena hal tersebut dapat menyebabkan keretakan dan mengakibatkan terputusnya hubungan kekerabatan. Silaturrahim yang seharusnya menjadikan hubungan semakin rukun, erat dan langgeng, jikalau tidak disertai dengan menjaga adab dan siakap maka akan menimbulkan suatu keburukan.

3. Bersikap tawadhu' dalam majelis tuan rumah. Karena sikap tawadhu' merupakan cerminan dari dalam diri manusia. Dan ia merupakan ahlak mulia yang harus senantiasa dijaga. Barang siapa yang tidak menunjukkan sikap yang tawadhu' kepada orang lain, niscaya orang lain pun enggan untuk menunjukkan sifat hormat kepadanya.

تمّ بحمد الله

IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Setelah mengetahui keutmaan yang terdapat didalam silaturrahim, dan mengetahui akibat yang ditimbulkan dari pemutusan tali silaturrahim, masihkah ada yang enggan untuk menyambung tali silaturrahim? Dan juga masih adakah yang ingin memutuskan tali silaturrahim?

Rasulullah r telah memberikan motifasi bagi umatnya yang selalu memperhatian urusan kerabatnya dan menyambung tali persaudaraan karenaNya. Di antaranya Allah I akan melapangkan rizki bagi seseorang yang menyambung tali silaturrahim dan juga akan memanjangkan umurnya serta meninggalkan kenangan yang baik bagi orang-orang yang ditinggalnya.

Kiranya penulilis cukupkan pembahasan ini, penulis yakin banyak kekurangan yang terdapat didalam penulisan makalah ini. Oleh karenanya, pintu saran dan kritikan dari pembaca yang bersifat membangun akan penulis terima dengan lapang dada. Dan penulis berharap semoga apa yang ada didalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis secara khusus, dan umumnya bagi para pembaca sekalian.

V. DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Qur'anul karim

2. Shohih Al-Bukhori

3. Fahul Bari Syarah Shohih Al-Bukhori

4. Jami' At-Tirmidzy

5. Sunan Abu Duwud

6. Sunan Imam Ahmad

7. Mukhtasor Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah

8. Al-Kaba'ir, Imam Adz-Dzahabi

9. Untaian Hikmah Pelembut Jiwa



[1] Di riwayatkan oleh Al-Bukhori (6018,6136), Muslim (47) dan Abu Dawud (5154)

[2] Di riwayatkan oleh Ibnu Adi (5/171) dan Al-Baihaqi (9560) sedangkan sanadnya dho'if.

[3] Al-Anbiya': 107

[4]An-Nisa': 1

[5] Fathul Bari, 10/414

[6] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985,

[7] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986,

[8] Al-Musnad, no. 8855, 17/42 ; Jami'ut Tirmidzi, Abwabul Birri wash Shihah, Bab Ma Ja'a fi Ta'limin Nasab, no. 2045, 6/96-97, dan lafazh ini miliknya ; Al-Mustadrak 'alash Shahihain, Kitabul Birr wash Shilah, 4/161. Imam Al-Hakim berkata. 'Hadits ini sanad-nya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Op.cit, 4/161). Hal ini juga disepakati oleh Adz-Dzahabi (Lihat, Al-Talkhish, 4/161). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menyatakan sanad-nya shahih. (Lihat, Hamisyul Musnad, 17/42). Dan ia dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. [Lihat, Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/190].

[9] Al-Musnad, no. 1212, 2/290 ; Majma'uz Zawa'id wa Manba'ul Fawa'id, Kitabul Birri wash Shihah, Bab Shilaturrahim wa Qath'iha, 8/152-153. Tentang hadits ini, Al-Hafizh Al-Haitsami berkata : 'Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath. Para perawi Al-Bazzar adalah perawi-perawi Shahih Muslim, selain Ashim bin Hamzah, dia adalah orang tsiqah (terpercaya). (Op.cit, 8/153). Disebutkan Ashim bin Hamzah, yang benar adalah Ashim bin Dhamrah. Penulisan Hamzah adalah salah cetak. (Lihat, Hamisyul Musnad, 2/290). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata. 'Sanad hadits ini Shahih. [Op.cit. 2/290]

[10]Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, Bab Shilaturrahim wa Qath'iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu'aib Al-Arna'uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (Lihat, 2/183-184).

[11] . HR. Tumudzi dalam kitab Sunannya. Kitab Al-Birr Wa Ash-Shilah, bab ma ja’a fi ta’limi al-ansab. Derajat hadits ini Hasan. Lihat Tuhfatul Al-Ahwadzi, 6 : 113.

[12] . Fath Al-Bari, 22 : 195

[13] . Ibid : 196

[14] . Lihat perkataan ini dalam kitab, “Tuhfah Al-Ahwadzi bi Asy-Syarh Jami’ At-Tirmidzi”, 6 : 113 - 114

[15] Al-A'raf : 34

[16] Ar-Ra'd : 39

[17] Fathul Bari, 10/416 secara ringkas. Lihat pula, Syarah Nawawi, 16/114, 'Umdatul Qari, 22/91

[18] QS An-Najm; 28

[19] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah

[20] QS An-Nisa'; 1

[21] QS Muhammad; 22-23

[22] Diriwayatkan oleh al-Bukhori (5984), Muslim (2556), Abu Dawud (1696) dan Tirmidzi (1909)

[23] Shohih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (5991), Tirmidzi (1908)

[24] Di riwayatkan oleh Allah-Bukhori dan Muslim

Read more...

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP