silaturrahim gitu looooh

Senin, 23 Maret 2009

بسم الله الرحمن الرحيم

SILATURRAHIM

MENJADIKAN HIDUP LEBIH BERARTI

Oleh; Mukhlisien el-lampungiy

I. MUQODIMAH

Orang bilang sekarang adalah zaman kemajuan. Segala sesuatu dinilai dengan seberapa banyak materi yang didapat. Mereka sebarkan ideologi individualitas mereka dengan selogan “elo-elo, gua-gua. Urusan elo, urusan elo. Urusan gua, urusan gua. Elo pikirin hidup loe, gua pikirin hidup gua” Sungguh ironis sekali kehidupan ini jikalau hanya dinilai dari segi finansial belaka. Namun yang membuat lebih miris lagi jikalau ternyata yang ikut-ikutan melontarkan selogan tersebut ialah orang Islam sendiri, yang notabenenya ialah penganut agama yang menjunjung tinggi persaudaraan.

Sesungguhnya perkara ini yang menurut aggapan sebagian manusia ialah perkara yang sepele namun jikalau tidak dikemas dengan rapi akan menimbulkan dampak yang sangat buruk , baik dalam skala kehidupan bermasyarakat, maupun kehidupan beragama.

Oleh kerena itu Islam telah mengatur urusan masyarakat tersebut dalam bingkaian agama. Di antara hubungan timbal balik antar masyarakat yang disorot ialah masalah silaturrahim. Sejauh apa tingkat kepedulian seseorang terhadap saudaranya. Namun bagaimana mungkin ia mengetahui keadaan saudaranya jikalau ia sendiri selalu meninggikan indifidualismenya? Jangankan kepada saudaranya yang letaknya berjauhan, sesama tetangga sendiri saja tidak kenal dan tidak pernah berkunjung.

Mereka seakan-akan enggan untuk berkunjung ke rumah saudaranya, dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan. Silaturrahim yang mempunyai fadhilah yang sangat besar baik di dunia maupun di akhirat, mulai enggan untuk diamalkan kecuali oleh sebagian kecil kaum Muslimin. Padahal jikalau mereka mengetahui manfaat-manfaat yang didapat dengan silaturrahim, niscaya mereka tidak akan menyepelekan urusan tersebut. Meskipun jikalau dipandang dari sudut pandang fiqih ia bukan suatu perkara yang diwajibkan sehingga oirang yang tidak melakukannya akan dikenai sangsi di dunia dan akhirat, namun jikalau seseorang sampai memutuskan tali silaturrahim yang notabenenya bukan perkara wajib tersebut niscaya ia akan terkena ancaman dari Rosulullah r.

Sebenarnya seberapa pentingkah silaturrahim ini? Sehingga Rosullullahr mengancam orang yang memutuskan tali silaturrahim? Dan bagaimanakah adab-adab silaturrahim tersebut?

II. LATAR BELAKANG PENULISAN

Latar belakang penulisan makalah ini ialah sikap sebagian kaum Muslimin yang sudah tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi dengan saudaranya. Jangankan yang hidup di perkotaan, yang masih di perdesaan yang konon masih kental dengan rasa solidaritasnya saja sudah mulai enggan untuk sekedar tegur sapa terhadap saudara-saudaranya. Oleh karena itu penulis merasa terpanggil untuk menjelaskan sedikit masalah silaturrahim didalam makalah singkat ini.

Dengan mengharap ridho dari Allah, InsyaAllah penulis akan membahas pertanyaan-pertanyaan di atas berdasarkan hujah-hujah yang berlandaskan Al-Qur'an dan sunnah. Dengan harapan setelah membaca makalah singkat ini, silaturrahim yang sudah mulai "mengering" dapat "dihijaukan" kembali. Juga hubungan silaturrahim yang sudah terputus baik yang disengaja ataupun tidak, dapat disambung kembali.

III. PEMBAHASAN MASALAH

A. HINDARI SOMBONG DENGAN SILATURRAHIM

Seringkali sombong menjadi masalah tersendiri yang muncul di tengah polemik kehidupan bermasyarakat. Namun ia juga menjadi wasilah yang akan menghancurkan persaudaraan sesame kaum Muslimin. Bagaikan sebuah virus yang terdapat didalam tubuh manusiua, yang belum nampak ketika ia masih masa inkubasi namun akibat yang ditimbulkan akan sangat berbahaya jikalau tidak segera terdeteksi dan diobati.

Begitu juga didalam masalah silaturrahim ini. Orang-orang kaya ataupun yang terpandang merasa enggan untuk sekedar menjalin silaturrahim. "wah eggak level kalau saya bertamu ke rumah simiskin, nanti apa kata dunia?" begitulah kurang lebih bisikan saithon kedalam hati orang yang sombong sehingga menurut sangkaan dia, seharusnya orang miskin lah yang mengunjungi rumahnya. Sikap peremehan inilah yang dikatakan oleh Rosullullah SAW sebagai ciri-ciri sifat sombong telah menancap ke dalam diri seseorang.

الكبر بطر الحق و غمط النّاس

"Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia"

Saad bin Abi Waqosh t pernah berkata kepada anaknya;

"Wahai anakku…… janganlah engkau sombong. Dan hendaklah yang engkau mintai tolong agar engkau bisa meniggalkan sifat sombong adalah yang mengajarkanmu tentang kedudukanmu dari-Nya dan kepada-Nya engkau kembali.

Dan bagaimana kesombongan bisa dimiliki oleh sesuatu yang diciptakan dari setetes air mani yang hina, dan dikeluarkan dari rahim, serta diberi makan dengan makanan yang bergizi."

Oleh kerena itu, salah satu hal yang dapat menghilangkan sifat sombong dan keangkuhan ialah dengan menjalin silaturrahim dengan saudara, tetangga dan kerabat. Serta tidak melukai perasaan mereka ketika berkunjung ke kediaman mereka. Baik secara lisan maupun secara fisik.

من كان يؤمن بالله و اليوم الأخر فلا يؤذي جاره

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah tidak menyakiti tetangganya."[1]

Telah sampai kabar dari Nabi r bahwa beliau bersabda, "barangsiapa menutup pintunya dari tetangganya karena khawatir akan mengurangi bagian keluarga dan hartanya, maka ia bukanlah seorang mu'min. Tiada pula seorang itu beriman jika tetangganya tidak merasa aman dari perilaku buruknya."[2]

B. PENGERTIAN SILATURRAHIM

Rahim secara bahasa berarti rahmah yaitu lembut dan kasih sayang. Tarahamal qaumu artinya saling berkasih sayang.

Imam Al-Azhary berkata yang dimaksud dengan firman Allah:

(Yang artinya)"Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".[3] Adalah kasih sayang.

Tarahhama 'alaihi berarti mendoakan seseorang agar mendapatkan rahmat, istarhama berarti memohonkan rahmat. Rajulun rahumun (orang laki-laki yang penyayang) dan imra'atun rahumatun (perempuan yang penyayang). Ar-Rahmah fi bani adam, berarti kelembutan dan kebaikan hati. Seseorang dikatakan dekat dengan kerabat apabila dia telah memiliki kasih sayang dan kebaikan sehingga menjadi betapa baik dan sayang.

Abu Ishaq berkata: Dikatakan paling dekat rahimnya yaitu orang yang paling dekat kasih sayangnya dan paling dekat hubungan kerabatnya. Ar-ruhmu dan ar-ruhumu secara bahasa adalah kasihan dan simpati. Allah menyebut hujan dengan nama rahmat.

Ibnu Sayyidih berkata bahwa yang dimaksud dengan ar-rahim dan ar-rihimu adalah rumah tempat tumbuhnya anak, dan jamaknya arhaam.

Al-Jauhary berkata ar-rahim berarti kerabat. Imam Ibnu Atsir berkata bahwa dzu rahim adalah orang-orang yang memiliki hubungan kerabat yaitu setiap orang yang memiliki hubungan nasab dengan anda.

Imam Al-Azhary berkata ar-rahim adalah hubungan dekat antara bapak dan anaknya dengan kasih sayang yang sangat dekat.

Allah Ta'ala berfirman:

(Yang artinya:) ”Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.”[4]

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata : "Ar-rahim secara umum adalah dimaksudkan untuk para kerabat dekat. Antar mereka terdapat garis nasab (keturunan), baik berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak".


Menurut pendapat lain, mereka adalah maharim (para kerabat dekat yang haram dinikahi) saja.

Pendapat pertama lebih kuat, sebab menurut batasan yang kedua, anak-anak paman dan anak-anak bibi bukan kerabat dekat karena tidak termasuk yang haram dinikahi, padahal tidak demikian.[5]

Silaturrahim, sebagaimana dikatakan oleh Ali Al-Qari adalah kinayah (ungkapan/sindiran) tentang berbuat baik kepada para kerabat dekat, baik menurut garis keturunan maupun perkawinan. berlemah lembut dan mengasihi mereka serta menjaga keadaan mereka.

C. HIDUP LEBIH BERARTI DENGAN SILATURRAHIM

Beberapa hadits dan atsar menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan silaturrahim termasuk di antara sebab kelapangan rizki. Diantara hadits-hadits dan atsar-atsar itu adalah.

1. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

من سرّه أن يبسط له في رزقه و أن ينسأ له في أثره فليصل رحمه

" Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim" [6]

2. Dalil lain adalah hadits riwayat Imam Al-Bukhari dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.

"Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan diakhirkan usianya (dipanjangkan umurnya), hendaklah ia menyambung silaturrahim".[7]

Dalam dua hadits yang mulia diatas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa silaturrahim membuahkan dua hal, kelapangan rizki dan bertambahnya usia.

Ini adalah tawaran terbuka yang disampaikan oleh mahluk Allah yang paling benar dan jujur, yang berbicara berdasarkan wahyu, Nabi Muhammad
r. Maka barangsiapa menginginkan dua buah di atas hendaknya ia menaburkan benihnya, yaitu silaturrahim. Demikian, sehingga Imam Al-Bukhari memberi judul untuk kedua hadits itu dengan "Bab Orang Yang Dilapangkan Rizkinya dengan Silaturrahim"
Imam Ibnu Hibban juga meriwayatkan hadits Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu dalam Kitab Shahihnya dan beliau memberi judul dengan "Keterangan Tentang Baiknya Kehidupan dan Banyaknya Berkah dalam Rizki Bagi Orang Yang Menyambung Silaturrahim".

3. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda.

"Belajarlah tentang nasab-nasab kalian sehingga kalian bisa menyambung silaturrahim. Karena sesungguhnya silaturrahim adalah (sebab adanya) kecintaan terhadap keluarga (kerabat dekat), (sebab) banyak - nya harta dan bertambahnya usia"
[8]


4. Dalil lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu dari Nabi
r, beliau bersabda.

"Barangsiapa senang untuk dipanjangkan umurnya dan diluaskan rizkinya serta dihindarkan dari kematian yang buruk maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dan menyambung silaturrahim"[9]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi
r yang jujur dan terpercaya, mejelaskan tiga manfaat yang terealisir bagi orang yang memiliki dua sifat ; bertaqwa kepada Allah I dan menyambung silaturrahim


Demikian besarnya pengaruh silaturrahim dalam berkembangnya harta dan benda dan menjauhkan kemiskinan, sampai-sampai ahli maksiat pun, disebabkan oleh silaturrahim, harta mereka bisa berkembang, semakin banyak jumlahnya dan mereka jauh dari kefakiran, karena karunia Allah Ta'ala.

Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda.

"Artinya : Sesungguhnya keta'atan yang paling disegerakan pahalanya adalah silaturrahim. Bahkan hingga suatu keluarga yang ahli maksiat pun, harta mereka bisa berkembang dan jumlah mereka bertambah banyak jika mereka saling bersilaturrahim. Dan tidaklah ada suatu keluarga yang saling bersilaturrahim kemudian mereka membutuhkan (kekurangan)".[10]

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa silaturrahim (menyambung tali kekeluargaan) merupakan amal yang dapat melanggengkan sebuah atsar –berdasar salah satu dari penafsiran hadits ini- . Dari Abu Hurairaht, dari Nabir beliau bersabda:

تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

“Belajarlah kalian dari nasab kalian, karena hal itu akan menyambung tali kekeluargaan kalian. Sesungguhnya silaturrahim (menyambung tali kekeluargaan) dapat menumbuhkan rasa cinta dalam keluarga, melimpahkan harta benda dan memanjangkan umur.”[11]

Ada beberapa pendapat tentang sabda Rasulullah:

مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ

Pertama, bahwasannya silaturrahim dapat memperpanjang umur.

Kedua, silaturrahim merupakan salah satu faktor pendorong keberlangsungan dan kelanggengan keturunan. Maknanya, barakah dari silaturrahim melimpah hingga pada masalah ini.

Ketiga, silaturrahim merupakan perantara untuk mendapatkan barakah dan petunjuk dalam beramal, hingga tidak ada istilah menyia-nyiakan umur. Dengan demikian seakan-akan umurnya bertambah.

Keempat, silaturrahim merupakan faktor yang menyebabkan dia selalu di kenang sepeninggalnya.

Di dalam kitab Fath Al-Bari[12] disebutkan penjelasan dari hadits tersebut bahwa, “Silaturrahim merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan petunjuk dalam menjalankan ketaatan dan tameng dari perbuatan maksiat. Maka setelah kematiannya, tinggalah setelah itu kenangan yang indah, seakan-akan dia belum meninggal. Kemudian salah satu dari perkara yang dapat menghantarkannya untuk mendapatkan petunjuk ini adalah ilmu yang bisa diambil manfaatnya oleh orang-orang setelahnya. Shadaqah jariyah, dan keturunan yang shalih…”

Masih di dalam kitab Fath Al-Bari, disebutkan bahwa Allah akan melanggengkan atsar orang yang senantiasa bersilaturrahim di dunia, dalam rentang waktu yang cukup lama. Peninggalan yang dia tinggalkan tidak cepat sirna, tidak sebagaimana peninggalan yang ditinggalkan oleh orang yang suka memutus tali persaudaraan.[13]

Kelima, bahwasannya silaturrahim merupakan salah satu sebab untuk mendapatkan keturunan yang shalih.[14]

"Para ahli hadits mengangkat persoalan seputar bertambahnya umur karena silaturrahim dan mereka memberikan jawabannya. Misalnya, dalam Fathul Bari disebutkan, Ibnu At-Tin berkata, 'Secara lahiriah, hadits ini beterntangan dengan firman Allah :

(Yang artinya:) "Maka apabila telah datang ajal mereka, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya"[15]

Untuk mencari titik temu kedua dalil tersebut dapat ditempuh melalui dua jalan.

Pertama: bahwasanya tambahan (umur) yang dimaksud adalah kinayah dari usia yang diberi berkah karena mendapat taufiq untuk menjalankan keta'atan, ia menyibukkan waktunya dengan apa yang bermanfa'at di akhirat, serta menjaga dari menyia-nyiakan waktunya untuk hal lain (yang tidak bermanfa'at).

Kedua: tambahan itu secara hakikat atau sesungguhnya. Dan itu berkaitan dengan malaikat yang diberi tugas mengenai umur manusia. Adapun yang ditujukkan oleh ayat pertama di atas, maka hal itu berkaitan dengan ilmu Allah Ta'ala. Umpamanya dikatakan kepada malaikat, 'Sesungguhnya umur fulan dalah 100 tahun jika dia menyambung silaturrahim dan 60 tahun jika ia memutuskannya'. Dalam ilmu Allah telah diketahui bahwa fulan tersebut akan menyambung atau memutuskan silaturrahim. Dan apa yang ada di dalam ilmu Allah itu tidak akan maju atu mundur. Adapun yang ada dalam ilmu malaikat maka hal itulah yang mungkin bisa bertambah atau berkurang. Itulah yang diisyaratkan oleh firman Allah :

(Yang artinya:)"Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisiNya lah terdapat Ummul Kitab (Lauh Mahfuzh)".[16]

Jadi, yang dimaksudkan dengan menghapuskan dan menetapkan dalam ayat itu adalah apa yang ada dalam ilmu malaikat. Sedangkan apa yang ada di dalam Lauh Mahfuzh itu merupakan ilmu Allah, yang tidak akan ada penghapusan (perubahan) selama-lamanya. Itulah yang disebut dengan al-qadha' al-mubram (taqdir/ putusan yang pasti), sedang yang pertama (dalam ilmu malaikat) disebut al-qadha' al-mu'allaq (taqdir / putusan yang masih menggantung).[17]

D. MEMUTUS SILATURRAHIM MERUGIKAN DIRI

Maha benar Allah U yang telah memberitahukan;

و إنّ الظنّ لا يغنى من الحقّ شيئا

“Dan sesungguhnya dugaan itu tidak berfaedah sedikit pun terhadap kebenaran"[18]

Betapa banyak orang yang menyangka bahwa dengan memutus tali silaturrahim yang telah mereka jalin, mereka putus hanya dikarenakan masalah yang sepele akan membawa dampak yang positif bagi mereka. Sangkaan tinggallah sangkaan. Ternyata yang tadinya mereka sangka kebaikan yang akan datang kepada mereka, namun malah kerugian yang mereka dapat. Sebenarnya kerugian akan tampak dengan terrputusnya tali silaturrahim. Hubungan menjadi kurang harmonis, emosi meluap, dendam berkesumat sampai-sampai kata-kata laknat pun terucap. Ini baru sebagian saja dari dampak-dampak yang terlihat ketika di dunia. Bagaimana kelak ketika di akhirat?

Allah U berfirman;

(Yang artinya:)"Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain[19], dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."[20]

Maksudnya jangan sampai memutus hubungan silaturrahim.

)Yang artinya)"Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan berbuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan. Mereka itulah orang-orang yang dilaknat oleh Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka" [21]

Dalam kitab shohih bukhori dan muslim disebutkan bahwa Rasulullah r bersabda;

لا يدخل الجنّة قاطع رحم

"Tidak masuk surga orang yang memutus ikatan rahim"[22]

"Barang siapa memutuskan hubungan dengan kerabat yang lemah, mengisolir mereka, bersikap takabur terhadap mereka dan tidak berbuat baik terhadap mereka, padahal ia kaya "Orang yang menyambung itu bukanlah mukafi' (orang yang melakukannya jika kerabatnya terlebih dahulu melakukan hal itu kepadanya), akan tetapi orang yang menyambung ialah orang yang terputus tali silaturrahminya kemudian manyambungnya kembali."[23]

Ali bin Husain pernah berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, janganlah sekali-kali engkau bersahabat dengan orang yang memutuskan tali silaturrahim. Sesungguhnya aku mendapatkannya terlaknat dalam kitabullah pada tiga tempat.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia mengadakan majlis untuk mengkaji hadits Rosulr dia berkata, “Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan tali silaturrahim sampai orang itu pergi dari perkumpulan kita.” Tidak ada seorangpun yang beranjak kecuali seorang pemuda yang duduk di bagian terjauh halaqoh itu. Ia pergi ke rumah bibinya sebab sudah lama ia bermusuhan dengan dengannya. Ia jalin lagi ikatan silaturrahim tersebut. Sambil terheran-heran sang bibi bertanya, “apa yang membawamu kemari, keponakanku?” pemuda tersebut menjawab, “Sungguh aku tengah mengikuti majlisnya Abu Hurairah, salah seorang sahabat Rosulullah r kemudian beliau berkata, ‘Aku merasa sesak dada kepada setiap orang yang memutuskan tali silaturrahim sampai orang itu pergi dari perkumpulan kita.” Bibinya berkata, “kembalilah ke majlisnya dan tanyakan mengapa demikian.” Pemuda itu pun kembali ke majlis dan menceritakan kepada Abu Hurairah perihal sengketa antara dia dan bibinya. Dia bertanya, “mengapa anda tidak mau bermajlis dengan orang yang telah memutus tali silaturrahim?” maka Abu Hurairah pun menjawab, “Aku telah mendengar Rasulullah r bersabda, ‘Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun kepada suatu kaum yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali silaturrahim.”

E. ADAB-ADAB DALAM SILATURRAHIM

Adapun diantara adab-adab yang perlu diperhatikan pada saat silaturrahim ialah sebagai berikut;

1. Mengikhlaskan niat karena Allah U

Rossulullah r bersabda;

إنّما الأعمال بالنّيات و إنّما لكلّ امرء ما نوى

“sesungguhnya amalan seseorang itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan niatnya.”[24]

Niatan yang berbeda akan melahirkan sikap dan hasil yang berbeda pula. Ketika niatnya untuk menggapai ridho Allah maka ridho-Nya lah yang akan didapat. Namun adakalanya yang menjadi prioritas ketika bersilaturrahim ialah simpati dari orang tua yang memiliki anak yang sedang diincarnya. Ataupun berbagi macam niatan yang tidak “murni” lainnya.

2. Tidak bermakud pamer dan membanggakan diri ketika berkunjung. Serta tidak meremehkan sanak kerabat lainnya karena hal tersebut dapat menyebabkan keretakan dan mengakibatkan terputusnya hubungan kekerabatan. Silaturrahim yang seharusnya menjadikan hubungan semakin rukun, erat dan langgeng, jikalau tidak disertai dengan menjaga adab dan siakap maka akan menimbulkan suatu keburukan.

3. Bersikap tawadhu' dalam majelis tuan rumah. Karena sikap tawadhu' merupakan cerminan dari dalam diri manusia. Dan ia merupakan ahlak mulia yang harus senantiasa dijaga. Barang siapa yang tidak menunjukkan sikap yang tawadhu' kepada orang lain, niscaya orang lain pun enggan untuk menunjukkan sifat hormat kepadanya.

تمّ بحمد الله

IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP

Setelah mengetahui keutmaan yang terdapat didalam silaturrahim, dan mengetahui akibat yang ditimbulkan dari pemutusan tali silaturrahim, masihkah ada yang enggan untuk menyambung tali silaturrahim? Dan juga masih adakah yang ingin memutuskan tali silaturrahim?

Rasulullah r telah memberikan motifasi bagi umatnya yang selalu memperhatian urusan kerabatnya dan menyambung tali persaudaraan karenaNya. Di antaranya Allah I akan melapangkan rizki bagi seseorang yang menyambung tali silaturrahim dan juga akan memanjangkan umurnya serta meninggalkan kenangan yang baik bagi orang-orang yang ditinggalnya.

Kiranya penulilis cukupkan pembahasan ini, penulis yakin banyak kekurangan yang terdapat didalam penulisan makalah ini. Oleh karenanya, pintu saran dan kritikan dari pembaca yang bersifat membangun akan penulis terima dengan lapang dada. Dan penulis berharap semoga apa yang ada didalam makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis secara khusus, dan umumnya bagi para pembaca sekalian.

V. DAFTAR PUSTAKA

1. Al-Qur'anul karim

2. Shohih Al-Bukhori

3. Fahul Bari Syarah Shohih Al-Bukhori

4. Jami' At-Tirmidzy

5. Sunan Abu Duwud

6. Sunan Imam Ahmad

7. Mukhtasor Minhajul Qosidin, Ibnu Qudamah

8. Al-Kaba'ir, Imam Adz-Dzahabi

9. Untaian Hikmah Pelembut Jiwa



[1] Di riwayatkan oleh Al-Bukhori (6018,6136), Muslim (47) dan Abu Dawud (5154)

[2] Di riwayatkan oleh Ibnu Adi (5/171) dan Al-Baihaqi (9560) sedangkan sanadnya dho'if.

[3] Al-Anbiya': 107

[4]An-Nisa': 1

[5] Fathul Bari, 10/414

[6] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5985,

[7] Shahihul Bukhari, Kitabul Adab, Bab Man Busitha Lahu fir Rizqi Bishilatir Rahim, no. 5986,

[8] Al-Musnad, no. 8855, 17/42 ; Jami'ut Tirmidzi, Abwabul Birri wash Shihah, Bab Ma Ja'a fi Ta'limin Nasab, no. 2045, 6/96-97, dan lafazh ini miliknya ; Al-Mustadrak 'alash Shahihain, Kitabul Birr wash Shilah, 4/161. Imam Al-Hakim berkata. 'Hadits ini sanad-nya shahih, tetapi tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim (Op.cit, 4/161). Hal ini juga disepakati oleh Adz-Dzahabi (Lihat, Al-Talkhish, 4/161). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir menyatakan sanad-nya shahih. (Lihat, Hamisyul Musnad, 17/42). Dan ia dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani. [Lihat, Shahih Sunan At-Tirmidzi, 2/190].

[9] Al-Musnad, no. 1212, 2/290 ; Majma'uz Zawa'id wa Manba'ul Fawa'id, Kitabul Birri wash Shihah, Bab Shilaturrahim wa Qath'iha, 8/152-153. Tentang hadits ini, Al-Hafizh Al-Haitsami berkata : 'Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Ahmad, Al-Bazzar dan Ath-Thabrani di dalam Al-Ausath. Para perawi Al-Bazzar adalah perawi-perawi Shahih Muslim, selain Ashim bin Hamzah, dia adalah orang tsiqah (terpercaya). (Op.cit, 8/153). Disebutkan Ashim bin Hamzah, yang benar adalah Ashim bin Dhamrah. Penulisan Hamzah adalah salah cetak. (Lihat, Hamisyul Musnad, 2/290). Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata. 'Sanad hadits ini Shahih. [Op.cit. 2/290]

[10]Al-Ihsan fi Taqribi Shahih Ibni Hibban, Kitabul Birr wal Ihsan, Bab Shilaturrahim wa Qath'iha, no. 440, 2/182-183. Syaikh Syu'aib Al-Arna'uth menshahihkan hadits ini ketika menyebutkan dalil-dalil pada catatan kaki Al-Ihsan. (Lihat, 2/183-184).

[11] . HR. Tumudzi dalam kitab Sunannya. Kitab Al-Birr Wa Ash-Shilah, bab ma ja’a fi ta’limi al-ansab. Derajat hadits ini Hasan. Lihat Tuhfatul Al-Ahwadzi, 6 : 113.

[12] . Fath Al-Bari, 22 : 195

[13] . Ibid : 196

[14] . Lihat perkataan ini dalam kitab, “Tuhfah Al-Ahwadzi bi Asy-Syarh Jami’ At-Tirmidzi”, 6 : 113 - 114

[15] Al-A'raf : 34

[16] Ar-Ra'd : 39

[17] Fathul Bari, 10/416 secara ringkas. Lihat pula, Syarah Nawawi, 16/114, 'Umdatul Qari, 22/91

[18] QS An-Najm; 28

[19] Menurut kebiasaan orang Arab, apabila mereka menanyakan sesuatu atau memintanya kepada orang lain mereka mengucapkan nama Allah seperti :As aluka billah artinya saya bertanya atau meminta kepadamu dengan nama Allah

[20] QS An-Nisa'; 1

[21] QS Muhammad; 22-23

[22] Diriwayatkan oleh al-Bukhori (5984), Muslim (2556), Abu Dawud (1696) dan Tirmidzi (1909)

[23] Shohih. Diriwayatkan oleh Al-Bukhori (5991), Tirmidzi (1908)

[24] Di riwayatkan oleh Allah-Bukhori dan Muslim

0 komentar:

Poskan Komentar

silahkan tingalkan komentar anda........

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP