Be Te sekolah? NO WAY!

Friday, July 17, 2009

Pendaftaran sekolah sudah pada dimulai. Bagi para lulusan siaip ambil ancang-ancang. Bendera perjuangan dikibarkan. Akankah lulus dalam tes seleksi ataukah harus hangus karena kalah ketika di uji. Hanya orang-orang yang lulus seleksi saja yang diizinkan masuk sebagai siswa suatu lembaga. Namun itu masih awal perjuangan. Karena perjuangan yang sesungguhnya ialah apa yang akan dihadapi ketika lulus tes seleksi.
Meskipun menjadi orang yang lulus seleksi, belum tentu orang tersebut merasa bahagia. Karena tidak sedikit siswa yang lulus seleksi namun pada akhirnya mengundurkan diri. Ada yang beralasan bosan sekolah atau ada juga yang ngerasa saljur. Alias salah jalur. Memang sih orang yang salah jalur pasti merasa tidak enak bangetz.. lho wong pengennya ke arah jakarta kok mobil yang dinaiki jurusan surabaya. (yang nulis di Solo lho… kalo orang lampung sich sah-sah saja naik jurusan surabaya. Kan ngewati…)

Begitu juga dengan skul, BeTe banget kalau ampek salah jurusan. Kalau sekolah atawa kuliah yang sudah setengah jalan namun merasa saljur, wah gak kebayang deh… sulit banget bro baliknya. Apalagi mo menggantinya biar sesuai dengan minat kita. Sebenarnya kenapa sich banyak orang yang tertimpa saljur?
Tidak punya cita-cita
Hidup tanpa cita-cita bisa bahaya. Bisa di ibaratkan dengan kapal tanpa nahkoda. Ia akan terombang ambing oleh ombak zaman ditengah samudra kehidupan. Kalau seseorang sudah memiliki cita-cita maka ia akan menggapai apa yang ia cita-citakan. Karena orang yang belum memiliki terget maka ia akan malas didalam menuntut ilmu. Ia hanya berjalan sebagai formalitas belaka. Orang yang sudah sarjana pun hanya memiliki titelnya saja tanpa ada isinya. Sehingga yang menarik hanya tampilan luarnya saja. Meskipun dalamnya kosong tiada arti. Kurang lebih virus inilah yang menimpa para petinggi negara saat ini. Mereka tidak lain menyuarakan kepentingan merekan sendiri atas nama orang lain. Karena sebenarnya mereka kosong belaka. Tiada yang dibawa kecuali titiel belaka. Hingga yang terjadi sekarang masyarakatlah yang menjadi sasaran “kepintaran” mereka.
Tidak mau memperdalam minat dan bakat
Membiarkan bakat tidak terasah, atau hanya merasa cukup terhadap apa yang sudah ada tanpa mau untuk merubah menjadi yang lebih baik. Jangan biarkan minat kita kepada hal-hal yang konsumtif dan tidak produktif. Apalagi minat terbesar yang dimiliki hanya menghambur-hamburkan uang untuk belanja hal-hal yang tidak bermanfaat. Atau hanya sekedar kongkow-kongkow yang tiada berguna. Karena kesemuanya itu hanya akan membuatmu tidak tau harus ngapain ketika disodorkan kepada banyak pilihan. Jangan biarkan otak kita yang mampu mencetuskan dan menyimpan miliaran ide, hanya kosong seperti balon. Semuanya kembali kepada kita, apakah kita mau berfikir dan mendalaminya ataukah tidak.
Tren mbebek (ikut-ikutan)
Kebiasaan ikut-ikutan biasanya terlahir karena seseorang itu ragu-ragu terhadap pilihannya. Karena keraguan dalam hal apapun pasti tidak menguntungkan. Kerena keragu-raguan muncul dari syaitan. Begitu pula jikalau ragu didalam memilih jurusan study yang sesuai akhirnya akan membuat seseorang menjadi terombang ambing dan memilih berdasarkan pengaruh pihak lain. Bisa jadi ikut-ikutan teman, paksaan ortu maupun pasrah dengan hasil psikotes. Maka marilah kita belajar untuk mengambil keputusan bertanggung jawab didalam kehidupan ini. Sehingga ketika berjumpa dengan sebuah problem tidak hanya mengeluh dan menyalahkan orang lain.
Tidak mau mendengarkan saran dari orang lain
Tidak boleh ikut-ikutan dengan orang lain tanpa landasan yang kuat, bukan berarti harus menolak pendapat yang mereka kemukakan. Semua saran yang kita terima untuk memilih jurusan yang tepat jangan dianggap sebagai sikap mempengaruhi, merecoki apalagi menggurui. Orang yang lebih tua biasanya memiliki banyak pertimbangan dan pengalaman yang lebih memadai dari kita-kita yang masih belia, walaupun kadang terkasan memaksa. So ya diterima saja sebagai masukan. Toh pilihan terakhirnya ada padamu.
Kurang teliti
Terbiasa sembrono dan tidak teliti, akan berimbas kepada rusaknya studi dan pekerjaan seseorang. Ketika memilih jalur study jangan mudah percaya apa kata orang. Apalagi terhadap iklan-iklan yang dipajang. Orang yang kurang teliti biasanya masa bodo terhadap kesesuaian ilmu yang ada dengan minatnya. Tidak mau memperhatikan apakah biaya dan waktu untuk studi di sebuah tempat yang menjadi targetnya sesuai dengan kemampuannya ataukah tidak. Padahal seharusnya perbanyaklah dahulu informasi-informasi akan lembaga pendidikan tersebut. Karena orang yang paling banyak memegan informasi, dialah yang paling tau langkah tepat yang akan diambil.
Tidak mau memperjuangkan keyakinan
Tidak mau memperjuangkan keyakinan berarti malas hidup didunia. Perjuangkan keuakinan akan sekolah yang tepat secara maksimal. Baik dengan cara latihan mengerjakan soal sebanyak mungkin atau juga dengan membuat sistim pembelajaran kelompok. insyaAllah kita akan mendapatkan studi dijurusan yang menyenangkan. Yang pasti tidak ada kemudahan dan kenikmatan kecuali setelah perjuangan.

Read more...

optimalkan waktumu

Ada pepatah yang mengatakan “Waktu adalah pedang, jikalau engkau tidak menggunakannya dengan baik maka ia akan memenggalmu”. Begitulah pentingnya waktu. Senhingga tidak salah jikalau ada yang mengatakan “waktu adalah uang”. Karena begitu berharganya nilai waktu bagi anak adam. Orang yang sukses bukanlah orang yang berjalan seiring berjalannya waktu tanpa usaha, namun orang yang sukses ialah orang yang mampu memanfaatkan waktunya dengan seoptimal mungkin.
Rasulullah Muhammad  telah mengatakan “Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia orang yang beruntung. Dan barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia orang yang celaka.” Nah kita tinggal milih saja mana yang kita inginkan. So pasti semuanya pasti pada milih menjadi orang-orang yang beruntung khan? Mana ada sich orang yang manginginkan menjadi orang yang merugi. Terlebih lebih merugi di akhirat. Na’udhubillah. Termasuk Bob Sadino yang mengatakan ingin rugi sebenarnya itu hanya sebatas proteksi untuk mental yang mana jikalau ia rugi maka tidak gelo lagi. Bukan menjadikan tujuannya untuk rugi.
Jadi jikalau kita memang ingin sukses, maka tinggal bagaimana kita mengoptimalkan waktu kita. Hingga tidak terbuang sia-sia dan penyesalan yang datang di akhir usia. Ya paling tidak kita sudah berusaha dan tidak hanya berpangku tangan. So disini ada beberapa tips mengoptimalkan waktu supaya kita tidak dipenggal oleh waktu itu sendiri.
1. Buatlah jadwal yang terrencana untuk agenda harian kita. Dari bangun tidur sampai tidur kembali. Dan alokasikan waktu secara seimbang. Jangan saling tabrak sana, tabrak sini. Kalau waktu belajar, ya belajar. Waktu ibadah ya ibadah. Sehingga ketika tidak ada keseimbangan dalam pembagian jadwal bisa-bisa semua jadwal menumpuk menjadi satu. Kan repot tuh….

2. Usahakan untuk disiplin terhadap jadwal yang sudah dibuat. Jangan sampai jadwal yang sudah terencana menjadi sia-sia. Hanya menjadi hiasan kamar karena ditempel di dinding dan tidak dikerjakan. Ya kalau orang jawa sih ngatakan eman-eman.

3. Jangan membuat jadwal terlalu ketat. Namun jikalau sudah membuatnya dan dirasa terlalu ketat maka segera saja dirubah. Ntar jikalau tidak segera dirubah khawatir akan menimbulkan masalah. Perlunak jadwal sesuai dengan kebutuhan. Sehingga sesuai juga dengan kemampuan yang kita miliki untuk mengerjakannya.
4. Jangan pernah menunda waktu untuk mengerjakan sesuatu. Jikalau kita bisa saat ini, kenapa musti nunggu sore hari.?
Ibnu Umar  pernah mengatakan, “ Jikalau engkau berada pada pagi hari,maka janganlah menunggu sorehari. Dan jikalau engkau berada di sorehari maka janganlah menuggu pagihari.”
Ada sebuah pepatah juga yang mengatakan, “Menunda pekerjaan sama halnya dengan menumpuk penderitaan.” Nah loe…. Kebayang gak sich menumpuk penderitaan.?

5. usahakan untuk serius dan fokus dalam megerjakan sesuatu. Hindari mengerjakan pekerjaan lain sebelum menyelesaikan suatu pekerjaan. Bisa kita banyangkan, mana mungkub setetes air yang lembut yang memetes ke sebongkah batu besar yang kuat dan keras dapat melubangi batu trsebut?. Pasti jawabannya ialah tidak mungking. Namun jikalau tetesan air tersebut menetesi batu dengan fokus pada satu titik, maka lambat laun batu yang besarpun akan berlubang dan hancur. Sama halnya dengan sebuah pekerjaan dan urusan. Sebesar apapun jikalau dilaksanakan secara fokus dan terus-menerus, maka lambat laun akan selesai juga.

6. Manfaatkan waktu luang. Baik ketika libur akhir pekan maupun ketika datang liburan panjang. Jangan sampai waktu luang pergi begitu saja. Karena waktu yang sudah berlalu tidak akan kembali lagi. Orang yang pandai ialah orang yang mampu memanfaatkan waktu luangnya dengan kebaikan. Tiada satu detik pun yang terlewatkan kecuali didalamnya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat.

7. Luangkan waktu pada saat liburan untuk refreshing sekaligus mengambil manfaat dari liburan. Bawalah diri kita untuk bertadabur alam. Merenungi alam ciptaan sang Kholiq. Betapa besarnya karunia yang diberikan kepada kita. Sehingga hilanglah kesombongan di dalam diri seseorang . karena merenungkan batapa kerdilnya diri ini di bandingkan alam semesta. Apalagi jikalau dibandingkan dengan rahmatNya yang tiada habisnya.

Ya kurang lebih begitulah tips-tips untuk mengelola waktu supaya tidak terlewatkan dengan sia-sia. Semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

by; mukhlisien

Read more...

jangan hanya bermimpi tanpa usaha yang pasti

Saturday, June 20, 2009

JANGAN HANYA BERMIMPI TANPA USAHA YANG PASTI
Sobat muda sekalian, sebenarnya meraih sebuah impian sangat dianjurkan. Kerena impian seseorang akan memicu untuk menjadi yang terbaik. Sah-sah saja sich…. Cuma yang jadi masalahya kita-kita kadang Cuma ngimpi doang tanpa usaha yang pasti. Padahal sebuah impian tidak akan bisa diraih kalau Cuma sekedar mimpi.
Stop Dreaming Start Action. Berhentilah untuk bermimpi tenpa adanya sebuah usaha. Jika kita memang menginginkan untuk menjadi seorang pembisnis yang sukses, kenapa hanya sebatas ruang mimpi? Bukankah lebih baik jikalau kita memulai aksi walaupun hanya aksi yang kecil. Dengan small action paling tidak kita udah satu langkah untuk menggapai apa yang jadi impian kita.
Nabi Muhammad mengatakan, “Sebaik-baik pekerjaan itu yang sedikit namun kontinyu”.

Mulai melangkah sedikit demi sedikit karena orang yang sukses tidak tidak akan meninggalkan potensi yang sudah dimilikinya demi mengejar harapan yang tidak dan belum pasti. Gali potensi dan jangan malu untuk beraksi dan kreasi, namun jangan melanggar yang syar’i.
Step by step tangga untuk meraih tangga kesuksesan harus dilalui. Dan perjuangan untuk menapaki tangga tersebu memang tidaklah gampang. Segampang membalikkan telapak tangan. Bagaikan sebuah gunung yang kita lihat dari jauh nampak elok dan menawan. Namun perjuangan untuk sampai pada puncak gunung tersebut dibutuhkan kesungguhan. Karena di dalamnya banyak halangan yang merintangi. Banyak tanjakan yang harus dilalui. Jurang terjal pun akan menghadang. Jalanan yang licin pun siap menjatuhkan orang yang berjalan di atasnya. Kesemuanya tidak akan tercapi jikalau hanya sebatas angan-angan belaka. Start action meskipun hanya dengan berjalan pelan atau bahkan mungkin denan merangkak. Stop dreaming dan hilangkan lamunan yang hanya memperlambat laju perjuangan.
Kuatkan Motifasi Diri
Motifasi diri untuk segera melangkah. Karena motifasi sebagai penyemangat yang akan membangkitkan semangat seseorang yang sudah mulai loyo. Pandanglah kesuksesan di dunia sebagai jalan untuk menggapai ridho ilahi. Karena dengan ridho dariNya maka semua yang sudah kita dapatkan akan lebih berbarokah.
Mantapkan diri untuk meraih apa yang dicita-citakan. Pandanglah lurus ke depan. Jangan toleh kanan dan toleh kiri. Abaikan cemoohan orang yang suka mencemooh. Anggaplah cemoohan sebagai cemeti yang memecut kita untuk menjadi yang lebih baik. Karena jilalu kita mengikuti semua yang orang omongkan, niscaya tidak akan ada kesudahan dan juga tidak akan ada kebenaran dan kebahagiaan. Ada sebuah kisah hikmah yang menceritakan seseorang yang selalu mengikuti perkataan orang lain dan ia tidak memiliki pendirian yang kuat hingga akhirnya penyesalan yang ia dapat.
Alkisah ada serorang penduduk desa yang bernama nasrudin joha. Suatu ketika ia akan mengadakan perjalanan untuk pergi kesuatu daerah. Ia menempuh perjalanan tersebut bersama dengan seorang anaknya dan seokor keledai. Karena dirinya sudah merasa tua dan khawatir mambahayakan dirinya, maka ia yang menaiki keledai dan sang anak berjalan di sampingnya. Ketika melewati suatu kaum maka kaum tersebut mencemoohnya dengan mengatakan, “Dasar orang tua tidak tau diri, masak anaknya disuruh berjalan kaki sementara dirinya enak-enakan di atas kendaraan…!”. Akhirnya nasrudin pun turun dan menyuruh anaknya naik ke keledainya satu-satunya. Ketika melewati suatu perkumpulan manusia, maka mereka mengatakan, “Dasar anak tidak tau di untung…., orang tuanya yang sudah sepuh palah disuruh jalan kaki, sementara ia yang masih sehat dan segar bugar palah asik di atas kendaraan…!”. Akhirnya nasrudin pun naik menemani anaknya di atas kendaraan. Ketika melewati suatu kaum ia mendapat cemoohan lagi, “Orang tua dan anak sama saja. Tidak ada yang berperi kemanusiaan (kemanusiaan atau kehewanan ya…..?), sudah tau keledainya kecil dan lemah kok ditunggangi dua orang…!” demi mendengar ocehan tersebut akhirnya keduanya turun dan berjalan kaki. Namun ketika melewati sebuah kaum mereka pun masih mengolok-olok Nasrudin dan anaknya, “Dasar orang tua dan anak sama-sama dungu. Udah punya kendaraan kok tidak mau dipakai. Malah mambiarkan kendaraannya jalan sendiri dan memilih jalan kaki…!”. Karena merasa tidak ada yang benar ketika berjalan dengan membawa seekor keledai, maka akhirnya ketika sampai di atas sebuah sungai lalu ia pun menangkat keledainya dan melemparkannya ke sungai tersebut. Maka kemudian ia dan anaknya yang malang memilih untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Sekarang didalam riil kehidupan kita, kita akan menentukan sikap kita sendiri. Apakah kita akan menjadi seorang yang sukses sampai pada sebuah tujuan ataukan akan terputus dirtengah perjalanan dan mendapatkan kerugian. Jikalau memang sesuksesan yang kita inginkan maka kita harus berjuang. Sekarang banyak situs yang memberikan semangat untuk senantiasa berjuang dan berusaha. Di antatanya yang sekarang lagi marak yaitu apa yang disampaikan oleh Om Joko Susilo. Tentang bagaimana menjadi diri yang sukses. Karena seorang pemenang berbeda dengan seorang pecundang.
Start Your Action demi menggapai masa depan yang lebih cerah. Karena yang diwajibkan kepada kita ialah berusaha sesuai kemampuan yang kita miliki. “Hidup adalah perjuangan, maka berjuanglah untuk meraih kehidupan yang hakiki dan ridho Ilahi”

Read more...

HIDUP TERHORMAT

Thursday, May 14, 2009

Kehormatan negara tercoreng ketika terungkap beberapa pejabat hukum diduga telah menerima suap. Bukan hanya negara dan instansi tempat pejabat itu ditempatkan yang tercoreng, tapi juga pribadi yang bersangkutan.

Adalah pasti bahwa dalam hati nurani manusia, hidup berarti hidup secara terhormat. Islam menilai bahwa suatu kehidupan yang tak disertai kehormatan sama sekali bukanlah kehidupan. Sebaliknya, ia adalah kematian yang lebih pahit dari kematian alamiah. Dan, seseorang yang menghargai kehormatannya sendiri hendaknya meninggalkan kehidupan yang rendah dan tercela.
Dalam Islam, kita akan banyak mendapati ayat Alquran dan hadis Nabi SAW tentang keharusan berbuat jujur. Menurut Islam, seseorang yang adil jika punya kemampuan ilmiah, dia bisa menjadi hakim, gubernur, atau pemegang jabatan lain yang mengemban tanggung jawab di masyarakat.

Islam yang menghormati hak-hak kepemilikan, memberikan penilaian yang tinggi terhadap mereka yang memperoleh harta secara terhormat, dan dari hasil kerja keras serta memanfaatkannya untuk kemaslahan umat. Banyak hadis Nabi memuji sahabat beliau yang kaya raya, seperti Utsman bin Affan, Abdurahman bin Auf, dan Saad bin Abi Waqas. Nabi memuji mereka karena dengan meningkatnya kekayaan, kepedulian sosial mereka juga makin tinggi.

Allah berfirman, ''.... Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan, apa saja harta yang baik yang kami nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, sedangkan kamu sedikit pun tidak akan dianiaya.'' (QS Albaqarah [2]: 272).

Menurut Islam, bukan harta yang menjadi penyebab timbulnya kejahatan, tapi keserakahan dan pendewaan akan harta. Ada orang yang mendapatkan harta dengan cara yang halal, ada juga yang mendapatkannya dengan jalan pintas dan menabrak semua rambu-rambu agama dan kepatutan.

Sesungguhnya, kita dapat menyaksikan perbedaan yang nyata antara dua orang; orang yang amin (dapat dipercaya) dan orang yang khain (pengkhianat). Orang yang amin adalah tempat kepercayaan dan penghormatan manusia, orang yang khain adalah pusat kemarahan dan penghinaan mereka.

Pemikir Islam, Sayid Jamaluddin Al-Afghani berkata, ''Adalah jelas diketahui bahwa kelangsungan jenis manusia didasarkan pada muamalat dan pertukaran manfaat kerja. Ruh keduanya adalah amanah.'' Mari kita berkaca!



Read more...

menjadi orang kaya

Tuesday, May 5, 2009


''Ridhalah dengan apa yang dibagikan Allah SWT untukmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling kaya.'' (HR Turmudzi). Penggalan hadis Rasulullah SAW di atas merupakan bentuk nyata betapa susahnya menumbuhkan rasa qanaah atau merasa cukup.

Hadis itu mengandung maksud orang paling kaya adalah mereka yang qanaah atas apa pun pemberian Allah SWT. Betapa positif dan bermartabatnya hidup ini bila seseorang selalu merasa ridha dan cukup dengan segala kondisinya. Dengan qanaah, yang sedikit akan menjadi banyak dan yang banyak akan menjadi berkah.

Kesenangan tidak akan sempurna dan nikmat tidak akan menjadi besar kecuali dengan memutuskan angan-angan memiliki seperti yang dimiliki orang lain. ''Himpunlah rasa putus asa terhadap apa-apa yang ada di tangan manusia.'' (HR Ibnu Majah).

Sikap tidak menerima atas apa yang telah dimiliki, hanya akan menguras keterkaitan hati dengan Allah SWT. Akibatnya, kehidupan yang sebenarnya tidak akan bisa dirasakan. Sementara kehidupannya menjadi tidak tertata. Ridha dengan pemberian, mensyukuri pemberian Allah SWT, dan menginvestasikannya untuk hal yang bermanfaat, maka inilah sebenarnya yang disebut kaya nan mulia. Allah SWT berjanji kepada orang yang hatinya dipenuhi keridhaan akan memenuhi hatinya dengan kekayaan, rasa aman, penuh dengan cinta, dan tawakkal kepada-Nya.

Sebaliknya, bagi yang tidak ridha, hatinya akan dipenuhi dengan kebencian, kemungkaran, dan durhaka. Pantaskah sebagai seorang hamba mengaku kekurangan, sementara pada waktu yang sama, kita masih memiliki akal. Andai kata akal itu dibeli orang atau menukarnya dengan emas dan perak sebesar gunung, kita pasti enggan menerimanya.

Kita memiliki dua mata yang sekiranya dibayar dengan permata sebesar Gunung Uhud, pasti tidak rela. Saat ini banyak orang enggan mengakui dan menyebut dirinya orang paling kaya. Kekayaan hanya mereka ukur dengan materi, banyaknya harta, dan pangkat yang tinggi.

Bersyukurlah atas nikmat agama, akal, kesehatan, pendengaran, penglihatan, rezeki, keluarga, penutup (aib), dan nikmat lain yang tak terhitung. Sebab, di antara manusia itu ada yang hilang akalnya, terampas kesehatannya, dipenjara, dilumpuhkan, atau ditimpakan bencana.

Kini saatnya untuk menyadari bahwa kita sebenarnya adalah orang yang paling kaya. Caranya dengan selalu qanaah dan merasa ridha. Bersyukur dengan apa yang kita miliki, sehingga hidup lebih bermakna, berkah, serta lebih berarti. Jadikanlah keridhaan itu dengan mengosongkan hati dari berbagai sangkaan dan membiarkannya hanya untuk Allah SWT.

Read more...

remaja bermanfaat

Wednesday, April 8, 2009


MENJADI REMAJA BERMANFAAT


Suatu ketika, Hasan Al Bashri menyuruh beberapa muridnya untuk memenuhi kebutuhan ‎seseorang. Dia berkata, "Temuilah Tsabit Al Bunani dan pergilah kalian bersamanya." ‎Lalu, mereka mendatangi Tsabit yang ternyata sedang iktikaf di masjid. Dan, Tsabit ‎minta maaf karena tidak bisa pergi bersama mereka. Mereka pun kembali lagi kepada ‎Hasan dan memberitahukan perihal Tsabit.

Hasan berkata, "Katakanlah kepadanya, 'Hai Tsabit, apa engkau tidak tahu bahwa ‎langkah kakimu dalam rangka menolong saudaramu sesama muslim itu lebih baik ‎bagimu daripada ibadah haji yang kedua kali?'" Kemudian, mereka kembali menemui ‎Tsabit dan menyampaikan apa yang dikatakan Hasan Al Bashri. Maka, Tsabit pun ‎meninggalkan iktikafnya dan pergi bersama mereka untuk membantu orang yang ‎membutuhkan.

Banyak cara bisa dilakukan agar menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. Bisa ‎dengan menolong dalam bentuk tenaga, memberikan bantuan dalam bentuk materi, ‎memberi pinjaman, memberikan taushiyah keagamaan, meringankan beban penderitaan, ‎membayarkan utang, memberi makan, hingga menyisihkan waktu untuk menunggu ‎tetangga yang sakit.

Pimpinan yang baik juga bermanfaat bagi bawahannya, sebagaimana penguasa yang adil ‎pun bermanfaat bagi rakyatnya. Bahkan, membuat orang lain menjadi gembira juga ‎termasuk amalan bermanfaat yang dicintai oleh Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ‎‎"Barang siapa yang membantu kesusahan seorang mukmin dari beberapa kesusahan ‎dunia maka Allah akan membantu kesusahannya dari beberapa kesusahan pada hari ‎kiamat. Dan, barang siapa yang meringankan beban orang kesulitan maka Allah akan ‎meringankannya dalam urusan dunia dan akhirat." (HR Muslim dan Ahmad).

Adalah ironi jika banyak orang kaya yang lebih senang naik haji berulang kali daripada ‎membantu kaum dhuafa yang membutuhkan uluran tangan. Banyak juga orang kaya yang ‎jor-joran membangun masjid mewah, sedangkan di sekelilingnya masih banyak kaum ‎fakir miskin yang membutuhkan bantuan. Padahal, Allah tidak butuh disembah dengan ‎indahnya masjid ataupun ibadah haji yang berulang-ulang. Wallahu a'lam bishshawab.


Oleh : Abduh Zulfidar Akaha
REPUBLIKA

Read more...

anda bertanya Al-Qur'an menjawab

MANUSIA BERTANYA, AL-QUR’AN MENJAWAB
Manusia Bertanya : Kenapa aku diuji ?
Qur'an Menjawab : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) ‎mengatakan:"Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Al-Ankabuut : 2). ‎Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka ‎sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia ‎mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabuut : 3)

Manusia Bertanya : Kenapa aku tidak diuji saja dengan hal-hal yang baik ?
Qur'an Menjawab : ………. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik ‎bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; ‎Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah : 216)

Manusia Bertanya : Kenapa aku diberi ujian seberat ini?
Qur'an Menjawab : Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan ‎kesanggupannya………. (Al-Baqarah : 286)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku frustrasi ?
Qur'an Menjawab : Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu ‎bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu ‎orang-orang yang beriman. (Ali Imraan : 139)

Manusia Bertanya : Bolehkah aku berputus asa ?
Qur'an Menjawab : ………..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. ‎Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Yusuf : ‎‎87)

Manusia Bertanya : Bagaimana cara menghadapi ujian hidup ini?
Qur'an Menjawab : Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah ‎kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada ‎Allah supaya kamu beruntung. (Ali Imraan : 200) Jadikanlah sabar dan shalat sebagai ‎penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-‎orang yang khusyu'. (Al-Baqarah : 45)

Manusia Bertanya : Bagaimana menguatkan hatiku?
Qur'an Menjawab : ….Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya ‎kepada-Nya aku bertawakal……. (At-Taubah : 129)

Manusia Bertanya : Apa yang kudapat dari semua ujian ini?
Qur'an Menjawab : Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu'min, diri ‎dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka………. (At-Taubah : 111)


‎(Sumber Tulisan oleh : Hakeem bin Zain)‎

Read more...

Tahan Amarah

SANGGUPKAH ANDA MENAHAN AMARAH?‎
‎"Siapa yang menahan marah, padahal ia dapat memuaskannya (melampiaskannya), maka ‎kelak pada hari kiamat, Allah akan memanggilnya di depan sekalian makhluk. Kemudian, ‎disuruhnya memilih bidadari sekehendaknya." (HR. Abu Dawud - At-Tirmidzi)

Tingkat keteguhan seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup memang berbeda-beda. ‎Ada yang mampu menghadapi persoalan yang sedemikian sulit dengan perasaan tenang. ‎Namun, ada pula orang yang menghadapi persoalan kecil saja ditanggapinya dengan ‎begitu berat. Semuanya bergantung pada kekuatan ma’nawiyah (keimananan) seseorang.

Pada dasarnya, tabiat manusia yang beragam: keras dan tenang, cepat dan lambat, bersih ‎dan kotor, berhubungan erat dengan keteguhan dan kesabarannya saat berinteraksi ‎dengan orang lain. Orang yang memiliki keteguhan iman akan menyelurusi lorong-lorong ‎hati orang lain dengan respon pemaaf, tenang, dan lapang dada.

Adakalanya, kita bisa merasa begitu marah dengan seseorang yang menghina diri kita. ‎Kemarahan kita begitu memuncak seolah jiwa kita terlempar dari kesadaran. Kita begitu ‎merasa tidak mampu menerima penghinaan itu. Kecuali, dengan marah atau bahkan ‎dengan cara menumpahkan darah. Na’udzubillah.

Menurut riwayat, ada seorang Badwi datang menghadap Nabi S.A.W. dengan maksud ‎ingin meminta sesuatu pada beliau. Beliau memberinya, lalu bersabda, "Aku berbuat baik ‎padamu." Badwi itu berkata, "Pemberianmu tidak bagus." Para sahabat merasa ‎tersinggung, lalu mengerumuninya dengan kemarahan. Namun, Nabi memberi isyarat ‎agar mereka bersabar.

Kemudian, Nabi S.A.W. pulang ke rumah. Nabi kembali dengan membawa barang ‎tambahan untuk diberikan ke Badwi. Nabi bersabda pada Badwi itu, "Aku berbuat baik ‎padamu?" Badwi itu berkata, "Ya, semoga Allah membalas kebaikan Tuan, keluarga dan ‎kerabat."

Keesokan harinya, Rasulullah S.A.W. bersabda kepada para sahabat, "Nah, kalau pada ‎waktu Badwi itu berkata yang sekasar engkau dengar, kemudian engkau tidak bersabar ‎lalu membunuhnya. Maka, ia pasti masuk neraka. Namun, karena saya bina dengan baik, ‎maka ia selamat."

Beberapa hari setelah itu, si Badwi mau diperintah untuk melaksanakan tugas penting ‎yang berat sekalipun. Dia juga turut dalam medan jihad dan melaksanakan tugasnya ‎dengan taat dan ridha.

Rasulullah S.A.W. memberikan contoh kepada kita tentang berlapang dada. Ia tidak ‎panik menghadapi kekasaran seorang Badwi yang memang demikianlah karakternya. ‎Kalau pun saat itu, dilakukan hukuman terhadap si Badwi, tentu hal itu bukan ‎kezhaliman. Namun, Rasulullah S.A.W. tidak berbuat demikian. Beliau tetap sabar ‎menghadapinya dan memberikan sikap yang ramah dan lemah lembut. Pada saat itulah, ‎beliau S.A.W. ingin menunjukkan pada kita bahwa kesabaran dan lapang dada lebih ‎tinggi nilainya daripada harta benda apa pun. Harta, saat itu, ibarat sampah yang ‎bertumpuk yang dipakai untuk suguhan unta yang ngamuk. Tentu saja, unta yang telah ‎mendapatkan kebutuhannya akan dengan mudah dapat dijinakkan dan bisa digunakan ‎untuk menempuh perjalan jauh.

Adakalanya, Rasulullah S.A.W. juga marah. Namun, marahnya tidak melampaui batas ‎kemuliaan. Itu pun ia lakukan bukan karena masalah pribadi. Melainkan, karena ‎kehormatan agama Allah.

Rasulullah S.A.W. bersabda, "Memaki-maki orang muslim adalah fasik (dosa), dan ‎memeranginya adalah kufur (keluar dari Islam)." (HR. Bukhari)

Sabdanya pula, "Bukanlah seorang mukmin yang suka mencela, pengutuk, kata-katanya ‎keji dan kotor." (HR. Turmudzi).

Seorang yang mampu mengendalikan nafsu ketika marahnya berontak, dan mampu ‎menahan diri di kala mendapat ejekan. Maka, orang seperti inilah yang diharapkan ‎menghasilkan kebaikan dan kebajikan bagi dirinya maupun masyarakatnya.

Seorang hakim yang tidak mampu menahan marahnya, tidak akan mampu memutuskan ‎perkara dengan adil. Dan, seorang pemimpin yang mudah tersulut nafsu marahnya, tidak ‎akan mampu memberikan jalan keluar bagi rakyatnya. Justru, ia akan senantiasa ‎memunculkan permusuhan di masyarakatnya. Begitu pun pasangan suami-isteri yang ‎tidak memiliki ketenangan jiwa. Ia tidak akan mampu melayarkan laju bahtera hidupnya. ‎Karena, masing-masing tidak mampu memejamkan mata atas kesalahan kecil ‎pasangannya.

Bagi orang yang imannya telah tumbuh dengan suburnya dalam dadanya. Maka, tumbuh ‎pula sifat-sifat jiwa besarnya. Subur pula rasa kesadarannya dan kemurahan hatinya. ‎Kesabarannya pun bertambah besar dalam menghadapi sesuatu masalah. Tidak mudah ‎memarahi seseorang yang bersalah dengan begitu saja, sekalipun telah menjadi haknya.

Orang yang demikian, akan mampu menguasai dirinya, menahan amarahnya, mengekang ‎lidahnya dari pembicaraan yang tidak patut. Wajib baginya, melatih diri dengan cara ‎membersihkan dirinya dari penyakit-penyakit hati. Seperti, ujub dan takabur, riya, ‎sum’ah, dusta, pengadu domba dan lain sebagainya. Dan menyertainya dengan amalan-‎amalan ibadah dan ketaatan kepada Allah, demi meningkatkan derajat yang tinggi di sisi ‎Allah S.W.T.

Dari Abdullah bin Shamit, Rasulullah S.A.W. bersabda, "Apakah tiada lebih baik saya ‎beritahukan tentang sesuatu yang dengannya Allah meninggikan gedung-gedung dan ‎mengangkat derajat seseorang?" Para sahabat menjawab, "Baik, ya Rasulullah." ‎Rasulullah saw bersabda, "Berlapang dadalah kamu terhadap orang yang membodohi ‎kamu. Engkau suka memberi maaf kepada orang yang telah menganiaya kamu. Engkau ‎suka memberi kepada orang yang tidak pernah memberikan sesuatu kepadamu. Dan, ‎engkau mau bersilaturahim kepada orang yang telah memutuskan hubungan dengan ‎engkau." (HR. Thabrani).

Sabdanya pula, "Bahwasanya seorang hamba apabila mengutuk kepada sesuatu, naiklah ‎kutukan itu ke langit. Lalu, dikunci pintu langit-langit itu buatnya. Kemudian, turunlah ‎kutukan itu ke bumi, lalu dikunci pula pintu-pintu bumi itu baginya. Kemudian, ‎berkeliaranlah ia kekanan dan kekiri. Maka, apabila tidak mendapat tempat baru, ia pergi ‎kepada yang dilaknat. Bila layak dilaknat (artinya kalau benar ia berhak mendapat ‎laknat), tetapi apabila tidak layak, maka kembali kepada orang yang mengutuk (kembali ‎ke alamat si pengutuk)." (HR. Abu Dawud).

Read more...

GOSIP…. GOSIP… GOSIP…..‎

GOSIP…. GOSIP… GOSIP…..‎
Dari 'Ubaid r.a, dia berkata : "Di masa Rasulullah SAW, beliau memerintahkan orang-‎orang berpuasa selama satu hari. Lalu mereka pun berpuasa. Saat itu ada dua orang ‎wanita berpuasa, dan mereka sangat menderita karena lapar dan dahaga pada sore ‎harinya. Kemudian kedua wanita itu mengutus seseorang menghadap Rasulullah SAW, ‎untuk memintakan izin bagi keduanya agar diperbolehkan menghentikan puasa mereka.

Sesampainya utusan tersebut kepada Rasulullah SAW, beliau memberikan sebuah ‎mangkuk kepadanya untuk diberikan kepada kedua wanita tadi, seraya memerintahkan ‎agar kedua-duanya memuntahkan isi perutnya ke dalam mangkuk itu. Ternyata kedua ‎wanita tsb memuntahkan darah dan daging segar, sepenuh mangkuk tersebut, sehingga ‎membuat orang-orang yang menyaksikannya terheran-heran. Dan Rasulullah SAW ‎bersabda : "Kedua wanita ini berpuasa terhadap makanan yang dihalalkan Allah tetapi ‎membatalkan puasanya itu dengan perbuatan yang diharamkan oleh-Nya. Mereka duduk ‎bersantai sambil menggunjingkan orang-orang lain. Maka itulah 'daging-daging' mereka ‎yang dipergunjingkan." (Hadits Riwayat Ahmad)

‎“Orang yang menggunjing dan mendengarkan gunjingan, keduanya bersekutu dalam ‎perbuatan dosa.” (Hadits Riwayat Ath-Thabrani)

‎"Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita dusta dan banyak memakan ‎yang haram." (Al-Qur'an Surat Al-Maidah : 42)

Allah S.W.T berfirman : "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari ‎prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu ‎mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing ‎sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging ‎saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan ‎bertaqwalah kepada Allah.Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha ‎Penyayang. " (Al-Qur'an Surat Al-Hujuraat:12)‎

Read more...

hikmah pengharaman al-kohol

HIKMAH PENGHARAMAN ALKOHOL
Hikmah Pengharaman Alkohol : Dampaknya Terhadap Jantung
Dr. Sath-han Ahmad (United State of America)

ٍSudah menjadi sesuatu yang diketahui umum, yaitu adanya dampak yang sangat kentara ‎dari alkohol terhadap otak dan kerja hati (liver), kecuali apabila hal itu digunakan untuk ‎tujuan-tujuan sosial atau untuk medis. Ada sebuah pemahaman yang menyatakan bahwa ‎penggunaan alkohol dalam jumlah kecil tidak berdampak pada toksin atau mempengaruhi ‎anggota tubuh lainnya sehingga tidak boleh melarang penggunaan alkohol.

Oleh karena itu, aku melaksanakan penelitian ini untuk memastikan ada-tidaknya dampak ‎yang signifikan terhadap jantung bagi manusia. Penelitian juga aku lakukan terhadap zat ‎aditif "khomer" bagi responden. Tes percobaan adalah 6 jenis alkohol dengan kandungan ‎‎43% saya berikan kepada orang biasa yang sehat yang berusia 23 - 30 tahun selama 2 ‎jam, bagi kelompok pertama, dan 1 jam bagi kelompok kedua. Dan ternyata, kerja ‎jantung jadi berdebar kencang.

Terhadap kelompok pertama, setelah berselang 60 menit (1 jam), kandungan al-kohol ‎menjadi + 74 mcm/ml ada penambahan selama pemompaan darah 90 - 96 mili kedua. ‎Dan penambahan waktu kepastian 44 - 52, bertambah persentase keduanya dari 0,299 ‎sampai 323. Dan mulai menurun setelah 2 jam pertama padahal jumlah alkohol dalam ‎darah bertambah sampai 111 mg dengan peningkatan yang sangat cepat/drastis (pada ‎kelompok kedua) dan terjadi dis-fungsi organ perut bagian kiri setelah 30 menit. Hal ini ‎terjadi ketika keadaan alkohol dalam darah mencapai 50 mg/100ml.

Adapun pada kelompok ketiga. Kami melakukan studi komparasional terhadap 5 orang ‎yang aku beri saccharine dan terjadi penurunan pada tiga hal tersebut pada setiap orang.

Oleh karena itu, penggunaan alkohol dengan dosis "kecil/atau tidak seberapa" akan ‎menyebabkan terjadinya disfungsi organ secara berkala; dan pada orang-orang biasa bila ‎tidak berkala. Dan untuk menganalisis kerja jantung pada pada saat diberi zat aditif ‎tersebut di atas, maka 3 orang yang sudah kecanduan khomer, kami melakukan studi ‎komparasinya dengan kelompok orang-orang biasa yang sehat. Berdasarkan hipotesis : ‎Ada perbedaan yang jelas pada keadaan dan gejala-gejala jantung, maka diketahui ‎bahwasanya ditemukan keadaan yang sangat jelas pada setiap responden tentang ‎disfungsi organ perut bagian kiri, baik besar atau pun kecil. Dan disfungsi ini lebih jelas ‎lagi pada orang yang sedang sakit yang relatif lebih lama pada lama-tidaknya kerja ‎jantung. Pada 12 pasien tidak mengetahui penyebab pembengkakan jantung, sebab ‎ukuran/volume organ perut bagian kiri dan volume darah dan terbuang berbeda lebih ‎jelas dibandingkan pada responden orang biasa.

Dan pada 11 orang yang menderita sakit tambahan, tidak mengetahui pembengkakan ‎jantung dengan perbedaan yang jelas, yaitu adanya penambahan atau pengurangan ‎volume pompa darah.

Pada 18 pasien, mengetahui adanya pembengkakan jantung tanpa diserta gejala, terjadi ‎penurunan atau dis-fungsi kerja pompa jantung secara jelas dan disertai penurunan ‎volume dan darah yang terbuang.

Berdasarkan hal tersebut, penggunaan alkohol (sebagai zat aditif) adalah kritis secara ‎terus-menerus terhadap jantung. Hal ini diawali dengan berdebarnya detak jantung dan ‎sampai pada tahapan berikutnya, sakit; penurunan stamina tubuh pada kerja pompa darah, ‎kemudian pembengkakan jantung, munculnya dis-fungsi jantung. Dan informasi yang ‎diperoleh dari percobaan terhadap sejumlah anjing menguatkan data kami ini, dimana ‎kami telah memberi makan 7 anjing tersebut secara paralel 5 kebutuhan anjing tersebut ‎akan energi panas melalui alkohol selama 18 bulan. Maka, terjadilah dis-‎fungsi/penurunan yang sangat jelas pada jumlah yang terbuang dari organ perut bagian ‎kiri, dan pada kekuatan tulang biseps. Adapun pembengkakan pada organ perut dan ‎inflamasi ataupun perubahan pada keduanya, maka hal itu tidak terjadi, dan terjadinya ‎penurunan potassium dengan adanya catatan pada biseps jantung anjing (64, dimana ‎sebelumnya 72).

Berdasarkan hal tersebut, pengunaan alkohol dengan dosis apapun dan dalam kondisi ‎apapun bukan hanya mempengaruhi aqidah saja, bahkan berdampak kepada jantung ‎dengan dampak yang sangat berbahaya.

Sesungguhnya hukum pengharaman di dalam Islam adalah sesuatu yang sudah dogmatis ‎dan terbatas yang tidak ada porsi sedikitpun untuk meragukannya atau mengingkarinya. ‎Sikap Islam terhadap penggunaannya minuman beralkohol dalam dosis kecil adalah ‎sangat jelas yang tidak perlu penjelasan tambahan, sebagaimana disebutkan dalam hadits-‎hadits Rasulullah. Adapun orang-orang kafir dan kalangan pendosa, mereka mengikuti ‎kaidah-kaidah mereka dari aspek kemanusiaan dan medik untuk melegalkan penggunaan ‎alkohol dalam dosis rendah ... . Maka mereka akhirnya menyangka bahwa dosis rendah ‎tidak akan berdampak secara signifikan, tidak jadi haram, dan tidak membahayakan ‎tubuh. Dari hal ini pun akhirnya dimungkinkan penggunaan alkohol dalam dosis sedang ‎untuk tujuan-tujuan medik.

Oleh karena itu, dipandang perlu bahwa kita dalam setiap moment selalu mengedepankan ‎ilmu dan dalil untuk memuaskan mereka-mereka yang tidak yakin dengan asas komitmen ‎dalam kita bertahkim dengan hukum ilahi.

‎------------------------------
http://www.geocities.com/the_fact99/‎

Read more...

  © Blogger template On The Road by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP